Iklan Responsive

Menentukan Standar Harga Sebuah Tulisan

Beberapa kali aku ditanyai soal cara bagaimana menentukan harga buat satu tulisan. Ini kaitannya dengan paid post atau artikel berbayar pada blog atau website. Memang nir gampang, terlebih tidak ada regulasi yg mengatur itu secara resmi.
Tapi sehabis dipikir-pikir, memang harus mencurahkan perhatian pada perkara ini. Sebagai blogger, awalnya aku pun ogahan buat mencari tahu berapa sebenarnya standar satu tulisan. Lantaran umumnya aku melakukan perundingan eksklusif dengan pemesan berdasar evaluasi sendiri.
Pernah suatu saat, seseorang menghubungi aku lewat email. Ia hendak memesan paid post. Tetapi terlebih dahulu menanyakan berapa baku yg aku pakai di TUTORIAL.

Pada page Iklan memang tidak saya cantumkan harga, yg berarti itu membuka jalur negosiasi.
Tapi saat itu, aku menjawabnya Rp500.000 buat satu artikel. Yang terjadi kemudian, ia membalas dengan istilah-kata yg tak sopan lalu mengumpat bahwa blog saya belum sekaliber blogger lain. Dan mereka mendapat harga yang lebih murah katanya.
Saya hanya mampu tersenyum membacanya. Miris sekaligus. Karena murahnya para pemesan itu memilih harga. Saat itu mereka hanya menawarkan harga Rp50.000 sampai Rp100.000 pertulisan. Wajar sih, lantaran baku media online di Indonesia membayar jurnalisnya pula tidak jauh-jauh menurut harga itu.

Saya pula tidak mau munafik, awal-awal blog ini ditawari paid post, saya pernah mendapat Rp50.000 pertulisan. Itupun dibayarnya dalam bentuk pulsa dan dikirim beberapa hari selesainya goresan pena ditayangkan. Tidak masalah kala itu. Dan saya tidak pernah menyalahkan mereka. Pun menggunakan yg mengumpat lalu. Itu hak setiap orang buat melakukannya.

Tapi apa sahih, tulisan di blog nir memiliki baku?. 
Jika merujuk pada standar yg wajib dibentuk oleh pemerintah, rasa-cita rasanya itu mustahil. Namun wajib diketahui beserta, pemerintah melalui Dirjen Pajak sebenarnya punya aturan yang dikenal menggunakan sebutan tandar porto generik (SBU).

Salah satu yg diatur dalam SBU ketentuan buat konten online. Rujukannya memang bukan blog secara spesifik, tapi website secara umum, baik itu media online hingga website milik pemerintah. Untuk satu halaman word, standar harganya Rp100.000.
Jika kita menggunakan kertas A4 dengan font 12 pt menggunakan spasi 1,5 maka satu laman itu berisi minimal 300 kata. Yang artinya, apabila merujuk harga SBU per Rp100.000 untuk tiap halaman, maka pemerintah menghargai satu kata yang ditulisan sebesar Rp330.

Katakanlah itu masuk akal, meski bagi saya itu belum relatif menghargai. Karena satu tulisan terkadang harus memaksa kita melakukan riset. Tapi harga yang ditentukan sang pemerintah ini masih sedikit manusiawi dibanding harga di beberapa situs lelang yang kebanyakan hanya Rp20 per katanya.

Standar yang diatur pemerintah jua masih terpaut jauh dari baku situs lingkungan Mongabay Indonesia. Mereka menghargai satu katanya Rp750, dengan minimum 500 istilah per artikel. Yang adalah satu tulisan di Mongabay paling rendah dibayar Rp375.000. Bisa dibayangkan jikalau jumlah pungkasnya 1.000 hingga 5.000 kata. Bayarannya akan semakin besar .
Kembali pada topik standarisasi goresan pena di blog. Saya punya beberapa kenalan yang bekerja pada digital agency. Mereka pernah menyampaikan satu tulisan yang dibentuk di media online akan ditentukan oleh beberapa faktor. Diantaranya traffic, pageviews dan impressionnya.

Dia memang tidak menyebut berapa standar minumum buat satu tulisan. Tetapi, katakanlah merujuk dalam kebijakan pemerintah. Maka nilai itu akan ditambah bila tarffic, pageviews serta impression media tadi cukup menjanjikan.
Belum lagi pertimbangan jumlah sebaran di sosial media. Lantaran hal ini nir mampu dipisahkan berdasarkan bisnis media online. Harganya mampu sangat tinggi. Ditambah pula dengan pajak karena biasanya media online punya kewajiban akan itu.
Saya punya kenalan yg bekerja di galat satu media online lokal yang mengaku pernah menerima tawaran paid post. Padahal trafiknya masih ribuan perhari kala itu. Harganya Rp500.000 menggunakan satu link dofollow di dalamnya. Itu di tahun2019. Setelah mempertimbangkan inflasi, harusnya lebih tinggi ketika ini.
Lalu menggunakan blog?. Saya pikir harusnya tidak jauh tidak sama. Apalagi blog terdapat nilai tambahnya, terkadang niche atau topiknya khusus sehingga sebarannya akan eksklusif ke orang yg membutuhkan. Atau pembaca yg memang tujuannya mencari informasi.

Tapi sekali lagi, tidak ada regulasi yang mengaturnya. Entah negara belum mempertimbangkan blogger layak dijadikan profesi, atau karena kita belum begitu menghargai copyright. Bicara soal hak cipta sebenarnya akan menambah daftar panjang setiap karya harusnya lebih layak menerima bayaran.

Pada setiap moment memperingati Hari Blogger Nasional aku pula belum pernah mendengar topik yg spesifik membahas baku harga paid post serta masalah hak cipta. Entah karena memang aku belum dengar lantaran nir pernah diundang serta terlibat pada seremoni itu, atau saya yang kudet. Entahlah.
Sebenarnya, pertimbangan memilih harga satu artikel pada blog juga harus dilihat berdasarkan prosesnya. Apakah pemesan yang menciptakan artikelnya atau semuanya dilakukan si pemilik blog. Lantaran kalau dilakukan sang pemilik blog akan menyita ketika. Ini pula menentukan harga seharunya.
Yang patut disayangkan pula, pada Indonesia ini memang banyak blogger. Tapi tidak semua mengerti bagaimana menyebarkan blog dengan baik. Bahkan mengisi konten pada blognya pun lebih acapkali copy paste goresan pena orang lain. Yang beginianlah sebenarnya yang merusak harga pasaran. 

Memang tidak sanggup langsung profesional, tetapi setidaknya jangan mengambil tulisan orang lain supaya blognya disebut selalu update. Pengiklan itupun bukan orang bodoh yang hanya melihat dari jumlah tulisan. Tapi apakah pemilik blognya memang layak dibayar atau nir.

Saya pribadi sebenarnya menciptakan blog ini bukan dengan tujuan komersil, namun pula tidak menolaknya. Tapi saya secara tegas menolak pengiklan yang ingin mempromosikan produk-produk yang menghambat moral, misalnya judi online serta konten berbau seks dan kekerasan.
Meski blog ini sederhana, saya tetap berupaya membangunnya secara profesional. Bahkan menggunakan urusan pengiklan pun saya berupaya berkomunikasi menggunakan bahasa yang layak. Mereka jua terkadang meminta invoice yg tentu pula saya sediakan.
Enaknya punya blog sendiri, ya kita bebas menentukan harga. Saya nir ragu melakukan itu karena aku percaya, karya aku bukan karya murahan. Meski blog ini sederhana, setidaknya punya harga diri. Kalian pun bisa melakukan itu. Mungkin juga baiknya sama-sama memikirkan standarisasi harga tulisan paid post pada blog. Atau soal copyright yg selalu saja dipandang sebelah mata. Dipikirnya menulis itu bukan hak cipta.

Masih poly hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, tetapi jumlah istilah dalam tulisan ini sudah mencapai 1000. Maka saya memilih mengakhirinya saja. Saya harusnya dibayar menggunakan harga yang manusiawi. Katakanlah menggunakan standar pemerintah. Maka aku dapat bayaran Rp330 dikali 1.000 istilah, Rp330.000. Lumayanlah buat bersenang-senang .
Salam Imajinasi!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel