Iklan Responsive

Teori Pembentukan Lempeng Bumi

Kajian mengenai bumi memang sangat menarik, termasuk di antaranya merupakan Teori Pembentukan Lempeng Bumi. Kenapa menarik? Karena ada poly pendapat yg berusaha menguraikan mengenai bagaimana lempeng bumi ini terbentuk. Selain membahas mengenai teori pembentukan lempeng bumi, kita jua akan mengusut mengenai struktur lapisan bumi menjadi pengantar.


STRUKTUR LAPISAN BUMI

1# Atmosfer
Atmosfer merupakan suatu deretan gas serta udara berupa  lapisan tipis yang menyelubungi semua bagian atas bumi. Ibarat sebuah jeruk, bumi merupakan gading butir jeruk sementara  kulit jeruk adalah atmosfernya. Pada atmosfer inilah  proses cuaca dan iklim berlangsung.

2# Litosfer
Litosfer merupakan suatu lapisan bumi yang berada di bawah atmosfer. Lithos berarti batu dan sphere (sphaira) ialah bulatan (lapisan). Jadi, litosfer bisa diartikan menjadi lapisan bumi yg mempunyai sifat keras, kaku serta rigid menggunakan ketebalan lebih kurang  0-70 km. 
Litosfer terdiri berdasarkan  dua lempeng yaitu :
  • Lempeng Benua (0-10 km) yg mengandung lapisan sima.
  • Lempeng Samudra (0-70 km) yg masih ada lapisan sial .


3# Astenosfer
Lapisan astenosfer terletak pada bawah litosfer. Lapisan ini mempunyai ketebalan 70-2.900 km yg berupa material padat bersifat seperti fluida. Lantaran sifatnya yang seperti fluida, lapisan ini pun labil sehingga waktu terpengaruh arus konveksi, lapisan ini akan bergerak serta jua ikut menggerakkan lapisan yang terdapat di atasnya.

Suhu dalam astenosfer mencapai lebih kurang 3000 derajat Celcius. Komposisi Mantel ini terbagi pada beberapa bagian, yakni mantel permukaan (upper mantle), astenosfer (bagian dari mantel), dan mantel bagian bawah. Jadi, bisa dikatakan bahwa astenosfer merupakan bagian berdasarkan mantel.

4# Barisfer
Barisfer adalah lapisan inti bumi, yang tersusun dari lapisan nikel dan besi. Lapisan barisfer bisa dibedakan dalam 2 bagian, yaitu :
  • Outer Core berupa inti bumi bagian luar yg mempunyai ketebalan 2900-4980 km. Bagian ini tersusun berdasarkan unsur besi dan nikel yg cair dengan suhu mencapat 3900 derajat Celcius.
  • Inner Core merupakan inti bumi yang teretak di bagian dalam dan memilikih ketebalan 4980-6370 km. Inner core ini tersusun dari unsur nikel yg padat meskipun suhunya mencapai 4800 derajat Celcius. Inner core memiliki tekanan yang besar sehingga menekan serta menjaga intinya supaya permanen berada pada tengah.


TEORI PEMBENTUKAN LEMPENG BUMI

Terdapat beberapa teori pembentukam lempeng bumi yg diungkapkan sang para ahli. Beberapa teori tadi mencakup :

Contraction and Expansion (kontraksi dan pemuaian)
Pada teori ini dijelaskan bahwa penyusutan Bumi terjadi dampak proses pendinginan. Analogi ini diadopsi berdasarkan peristiwa mengkerutnya kulit apel yg sudah mengering. 

Dari teori inilah dapat  dijelaskan mengenai  wilayah-daerah yg tertekan misalnya dalam perpaduan gunung api. Hanya saja, teori ini tidak sanggup mengungkapkan insiden terjadinya cekungan, celah dan lembah. 

Teori ini pertama kali diungkapkan oleh Descretes (1596-1650) serta mendapat dukungan dari James Dana sertap Elie de Baumant.

Lebih lanjut, pengembangan Bumi terjadi akibat adanya proses pemanasan. Hal ini dioljamk berdasarkan inovasi tentang prinsip radioaktivitas. Dari teori inilah, dapat dijelaskan mengenai bagaimana Benua dapat hancur serta juga menyebutkan pembentukan lipatan. Hanya saja masoh belum mampu mengungkapkan terjadinya wilayah-daerah tekanan.

Continental Drift (pengapungan benua)
Di awal abad ke-20, para ilmuwan menyadari bahwa sulit buat bisa mengungkapkan struktur Bumi serta prosesnya hanya dengan satu teori saja. Banyak ilmuwan yg berbagi hipotesis buat mencoba serta menunjang permasalahan observasi. 

Salah satunya, ada Alfred Wegner seseorang meteorologis Jerman yang menilik iklim antik dan mengemukakan teori pergeseran benua. Hipotesisnya menyampaikan tentang Continental Drift  yg dikemukakannya tahun 1910. Ini bisa dilihat dari penampakan alam Amerika Selatan serta Afrika yg terlihat cocok bersama-sama seperti jigsaw puzzle sebagai akibatnya menarik perhatiannya.

Dalam teorinya tadi, dia jua menggabungkan beberapa informasi dan distribusi fosil untuk memformulasikan teori yang menunjukkan bahwa benua beranjak di bagian atas bumi. Ia pun mengemukakan bahwa sebelum 200 juta tahun kemudian, seluruh benua adalah satu daratan akbar serta berat yg diklaim Pangea. 

Prinsip menurut teori ini adalah bahwa benua diposisikan sebagai sebuah lempeng atau batuan. Benua ini mengapung sepanjang bagian atas bumi sepanjang ketika. 

Hanya saja, terdapat kelemahan menurut teori Wegner ini. Alasan teori ini nir bisa diterima sang gelogist merupakan dia mengemukakan bahwa benua menggelincir di atas dasar laut. Padahal, dasar laut tidak cukup kuat pada menopang benua.

Laurasia-Gondwana
Tekru ini dicetuskan oleh Alexander Du Toit, seorang geologist Afrika Selatan. Setelah berkunjung ke Amerika Selatan, ia menjadi keliru seoramg pendukung teori Wegener. Lalu dia mempubllikasikan observasinya dalam A Geological Comparison of South America with South Africa serta mulai membuatkan pemikirannya sendiri pada Our Wondering Contonents (1937). 

Dalam karyanya tersebut, dia menyatakan bahwa pemisahan pangea membentuk dua benua super yaitu Laurasia (di kurang lebih kutub utara) dan Gondwana (di kurang lebih kutub selatan).

Paleomagnetism (pola magnetik purba batuan)
Teori ini diungkapkam pada ketika perang global ke 2 berlangsung. Tokohnya merupakan seseorang geologis yang dipekerjakan sang militer, yg bernama Harry Hass menurut Universitas Princeton. 

Ia awalnya mengemukakan penelitiannya mengenai dasar bahari. Tujuan penelitian yg dilakukannya merupakan buat tahu topografi dasar bahari, termasuk buat mengukur kedalaman dasar laut berdasarkan bagian atas sekaligus buat menemukan loka tersembunyi musuh-musuh yamg ada di kapal selam. 

Tipe penelitian lain, menggunakan magnetometer (untuk mengukur benda-benda magnet) yang diletakkan pada belakang kapal guna mendeteksi kapal selam. 

Dalam penelitian ini tampak adanya anomali magnetic pada bawah laut. Yakni menggunakan adanya kemagnetan yg tinggi di punggung bahari serta kemagnetan yang rendah pada sisi yg lainnya.

Dari penelitian inilah ditemukan 2 topografi krusial, yaitu punggung samudra dan palung samudra. Harry menyatakan bahwa benua tidaklah beranjak sepanjang kerak samudera , melainkan benua serta kerak lautan beranjak secara bersama-sama. 

Apabila kerak samudra yang baru serta litosfer terus menerus terbentuk pada daerah punggung laut, maka lautan akan bertambah luas, kecuali apabola masih ada sebuah mekanisme yg menghancurkan litosfer samudra. 

Zona Benioff dan palung samudera ini sebagai bukti bahwa litosfer samudera balik pada mantel dengan jalan menyusup menuju bawah pada palung laut (zona subduksi). 

Ini dapat terjadi lantaran lempeng samudera bersifat dingin serta ringkih. Lantaran sifat inilah, dia akan pecah dan kembali bercampur beserta matel sehingga menghasilkan gempa bumi yang sangat dalam.

Di tahun 1950 dan 1960, penelitian mengenai medan magnet bumi serta perubahannya (paleomagnetism) membuat liputan terbaru yakni bahwa benua itu mengapung. 

Kesimpulan berdasarkan konsep medan magnet ini merupakan (1) Bumi memiliki lebih dari satu kutub, di mana kurtub ini berubah seiring waktu pada masa lalu. (2) benua yg tidak sinkron telah berkiprah nisbi satu sama lain seiring saat geologi. Selain itu, penelitian ini mengkonfirmasi hipotesis terakhir serta menkonfirmasi teori Continental Drift.

Convection Current (arus konveksi)
Terjadinya perpecahan benua serta konvoi lempeng dipercaya terjadi akibat adanya tenaga yang menggerakkannya. Energi tersebut asalnya berdasarkan arus konveksi yg ada di dalam astenosfer bumi. Arus konveksi merupakan perpindahan energi panas pada fluida, yang ditimbulkan oleh, beberapa hal yakni '
  • Peluruhan unsur radioaktif
  • Gradien Geometris
  • Adanya serangan benda asing
  • Panas yg tersimpan dalam ketika pembentukan planet


Sea Floor Spreading
Teori ini diawali dari para peneliti yg menangkap konvoi lempeng yang saling menjauh. Pergerakan ini lalu menyebabkan terbentuknya punggungan memanjang pada wilayah yang menjauh.

Para peneliti seperti Vine, Matthews dan Morely mencoba mencari keterangan-keterangan krusial sampai akhirnya mereka menemukan adanya lempeng samudra yg baru terbentuk pada antara dua lempeng yg saling menjauh. Adanya infiltrasi magma yang terjadi di antara lempeng ini menyebabkan kemunculan punggung laut. 

Karenanya, teori ini diklaim Sea Floor Spreading. Teori ini juha sanggup menjawab pertanyaan terbesar berdasarkan Continental Drift mengenai Bagaimana sanggup benua beranjak di atas kerak samudra? Faktanya, benua berkiprah bersamaan menggunakan kerak samudra  sebagai bagian dari sistem litosfer. Fenomena ini terjadi akibat adanya konveksi arus panas dari mantel atas bumi atau astenosfer.

Tektonik Lempeng
Peneliti Mc. Kenzie serta Robert Parke berusaha mengkombinasikan Sea Floor Spreading dengan Continental Drift bersama fakta seismik dunia. Dari sinilah, mumcil teori terkini Tektonik lempeng yg dipercaya menjadi teori yg paling masuk akal buat menyebutkan konvoi lempeng.

Teori tektonik lempeng ini dianalisa berdasarkan model sederhana Bumi. Litosfer padat yang tersusun atas kerak samudra dan kerak benua, terletak di atas mantel. Lapisan inj terdiri menurut beberapa lembar berukuran tidak selaras yg diklaim lempeng.

Lempeng ini tersusun atas kerak samudra dengan ketebalan 100 km dan 250 km. Kerak benua yang tebal ini mengapung di atas astenosfer. Pada waktu benua dan samudra melayang, ini adalah bagian berdasarkan lempeng akbar yang mengapung. Bagian ini beranjak secara horizontal dalam bagian palinh atas astenosfer. 

Lempeng ini memiliki sifat rigid (padat) menggunakan kemampuan yang kenyal. Akan tetapi, deformasinya terlihat pada sepanjang batas antar lempeng. Ada kalanya pula lempeng samudra menyusup pulang ke dalam mantel karena adanya perbedaan ketebalan serta kepadatan. Selain itu, masih ada insiden pelebaran lempeng yg terjadi dampak arus konveksi. 

Peristiwa infiltrasi atau pelebaran ini mengakibatkan kemunculan dari batas antar lempeng.  Terdapat tiga jenis batas lempeng, yakni Batas Lempeng Divergen yang berupa lempeng berkecimpung menjauh satu sama lain, Batas Lempeng Konvergen yg berupa lempeng beranjak saling mendekati satu sama lain, serta terakhir merupakan Batas Lempeng Transform yang berupa lempeng terdorong berselisihan satu sama lain. Batas lempeng inilah yg menyebabkan terjadinya insiden tektonik atau vulkanik yg terjadi pada Bumi.

Tektonik lempeng merupakan teori yg dikembangkan pada akhir tahun 1960. Teori ini menaruh citra mengenai proses konvoi dan pembentukan lempeng terluar berdasarkan Bumi. 

Dari teori ini, terjadilah revolusi pemikiran insan mengenaj Bumi. Sejak teori ini berkembang, para ahli geologis melakukan pengujian balik pada hampir setiap aspek geologi. 

Teori tektonik lempeng ininjuga sudah terbukti sangat berguna karena dk dalamnya,  kita bisa memberikan prediksi akan peristiwa geologi serta mengungkapkan hampir menurut seluruh aspek  yang kita lihat pada Bumi. Seperti pembentukan gunung, gempa bumi, serta gunung merapi.

Dalam perkembangan teori tektonik lempeng, ada banyak ilmuwan yg mulai mengungkapkan penelitiannya pada bentuk teori yg tak jarang kali kita dengar kini ini.

Jadi, terselesaikan telah penjelasan. Mengenai teori pembentukan lempeng bumi. Semoga artikel ini mampu berguna.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel