Peran Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan

Peran Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan

Menurut Ismaun (2001:52) ilmu pengetahuan ilmiah harus diperoleh dengan cara sadar, melakukan sesuatu tehadap objek, didasarkan dalam suatu sistem, prosesnya memakai cara yg lazim, mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri menggunakan pembuktian atau inspeksi tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sebagai akibatnya memerlukan prosedur, harus memenuhi aspek metodologi, bersifat teknis serta normatif akademik. 

Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan berdasarkan waktu ke ketika, perkembangannya seiring menggunakan pemikiran tertinggi yang dicapai insan. Oleh karenanya filsafat sains modern yg terdapat sekarang merupakan hasil perkembangan filsafat ilmu terkini yang sudah didapatkan sang pemikiran manusia. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yg digunakan pada menciptakan ilmu pengetahuan, tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang sudah mensugesti pemikiran sains terbaru.

Kemampuan rasional dalam proses berpikir digunakan menjadi indera penggali empiris sebagai akibatnya terselenggara proses penciptaan ilmu pengetahuan. Akumulasi penelaahan empiris menggunakan menggunakan rasionalitas yg dikemas melalui metodologi diperlukan dapat menghasilkan serta memperkuat ilmu pengetahuan sebagai semakin rasional. Akan tetapi, salah satu kelemahan pada cara berpikir ilmiah merupakan justru terletak dalam penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional, sehingga dalam pandangan yg dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Oleh karena itu, hakikat berpikir rasional sebenarnya adalah sebagian menurut berpikir ilmiah sebagai akibatnya kesamaan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan membuat jawaban yg dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti dalam hipotesis yang adalah jawaban sementara. Kalau sebelumnya masih ada kesamaan berpikir secara rasional, maka menggunakan meningkatnya intensitas penelitian maka kesamaan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara realitas. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yg selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi berdasarkan metode ilmiah. 

Pemahaman rasional mengandung makna bahwa logika manusia mempunyai pengertian-pengertian serta pengetahuan-pengetahuan yang tidak muncul berdasarkan hasil penginderaan saja.  Kematangan berpikir ilmiah sangat dipengaruhi oleh kematangan berpikir rasional serta berpikir realitas yg berdasarkan pada keterangan (objektif), karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme, empirisme serta objektivitas maka berpikir itu tidak bisa dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. Karena itu sesuatu yg memiliki gambaran rasional, empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan ditinjau menjamin kebenarannya, menggunakan demikian rasionalisme, empirisme dan objektivitas adalah dogma pada ilmu pengetahuan. 

Kebutuhan terhadap adanya paradigma pada menciptakan ilmu pengetahuan (sains) membawa impak dalam kebutuhan adanya rasionalisme, empirisme dan objektivitas. Artinya, bila ilmu pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional, empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak memiliki kesahihan. Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan dibutuhkan konsistensi yang terus berpegang dalam paradigma yg membentuknya. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan sangat diperlukan supaya ilmu pengetahuan seiring menggunakan tantangan zaman, karena ilmu pengetahuan tidak hayati dengan dirinya sendiri, tetapi wajib mempunyai manfaat kepada kehidupan global. 

Tentang-soal.