Faktor Penyebab perkembangan infeksi nosokomial Ilmu Bedah

Faktor Penyebab perkembangan infeksi nosokomial 

Agen infeksi 
Pasien akan terpapar banyak sekali macam mikroorganisme selama dirawat di tempat tinggal sakit. Kontak antara pasien serta banyak sekali macam mikroorganisme ini tidak selalu mengakibatkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat mengakibatkan terjadinya infeksi nosokomial. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada: 
  • karakteristik mikroorganisme 
  • resistensi terhadap zat-zat antibiotika 
  • tingkat virulensi, serta 
  • banyaknya materi infeksius. 
Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, fungi serta parasit bisa menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini bisa ditimbulkan oleh mikroorganisme yg didapat menurut orang lain (cross infection) atau ditimbulkan sang tanaman normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi pada tempat tinggal sakit ini lebih disebabkan lantaran faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui kuliner serta udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril.penyakit yg didapat menurut rumah sakit saat ini kebanyakan ditimbulkan sang mikroorganisme yang umumnya selalu ada dalam manusia yg sebelumnya nir atau jarang menyebabkan penyakit dalam orang normal (Utama, 2006). 


Respon dan toleransi tubuh pasien 

Faktor terpenting yang mensugesti taraf toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah: 
  • Usia 
  • status imunitas penderita 
  • penyakit yang diderita 
  • Obesitas dan malnutrisi 
  • Orang yg menggunakan obat-obatan 
  • imunosupresan dan steroid 
  • Intervensi yg dilakukan dalam tubuh untuk melakukan diagnosa serta terapi. 
Usia muda serta usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi syarat ini lebih diperberat apabila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor, kurang darah, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, SLE dan AIDS. Keadaan-keadaan ini akan menaikkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yg semula bersifat opportunistik. Obat-obatan yg bersifat immunosupresif bisa menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi.banyaknya mekanisme inspeksi penunjang dan terapi seperti biopsi, endoskopi, kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan pula menaikkan resiko infeksi (Utama, 2006). 


Infeksi melalui hubungan langsung serta nir pribadi 

Infeksi yg terjadi karena hubungan secara eksklusif atau nir pribadi menggunakan penyebab infeksi. Penularan infeksi ini bisa melalui tangan, kulit dan baju, misalnya golongan staphylococcus aureus. Dapat juga melalui cairan yg diberikan intravena serta jarum suntik, hepatitis serta HIV. Peralatan serta instrumen kedokteran. Makanan yang tidak steril, nir dimasak dan diambil memakai tangan yang menyebabkan terjadinya infeksi silang. 


Resistensi antibiotika 

Seiring dengan inovasi dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970, poly penyakit yg berfokus dan fatal waktu itu dapat diterapi serta disembuhkan.bagaimana pun pula, keberhasilan ini menyebabkan penggunaan hiperbola dan penyalahgunaan dari antibiotika.banyak mikroorganisme yang kini sebagai lebih resisten.meningkatnya resistensi bakteri bisa menaikkan nomor mortalitas terutama terhadap pasien yg immunocompromised.resitensi menurut bakteri ditransmisikan antar pasien dan faktor resistensinya dipindahkan antara bakteri. Penggunaan antibiotika yang monoton ini justru menaikkan multiplikasi dan penyebaran strain yg resisten. Penyebab utamanya karena: 

1. Penggunaan antibiotika yg nir sesuai dan tidak terkontrol 

2. Dosis antibiotika yang nir optimal 

3. Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat 

4. Kesalahan diagnosa (Utama, 2006) 

Banyaknya pasien yg mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yg resisten terhadap antibiotika menyebabkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut. Penggunaan antibiotika secara akbar-besaran untuk terapi dan profilaksis merupakan faktor utama terjadinya resistensi. Banyak strain berdasarkan pneumococci,staphylococci, enterococci, serta tuberculosis telah resisten terhadap poly antibiotika, begitujuga klebsiella serta pseudomonas aeruginosa pula sudah bersifat multiresisten. Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia. 

Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas serta mortalitas di tempat tinggal sakit, dan menjadi sangat krusial lantaran meningkatnya jumlah penderita yang dirawat, seringnya imunitas tubuh melemah lantaran sakit, pengobatan atau umur, mikororganisme yang baru (mutasi), dan Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika. 


Faktor alat 

Dari suatu penelitian klinis, infeksi nosokomial terutama disebabkan infeksi menurut kateter urin, infeksi jarum infus, infeksi saluran nafas, infeksi kulit, infeksi dari luka operasi dan septikemia. Pemakaian infus serta kateter urin lama yg nir diganti-ganti. Di ruang penyakit dalam, diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus. Komplikasi kanulasi intravena ini bisa berupa gangguan mekanis, fisis dan kimiawi. Komplikasi tadi berupa: 

  • Ekstravasasi infiltrat : cairan infus masuk ke jaringan kurang lebih insersi kanula 
  • Penyumbatan : Infus nir berfungsi sebagaimana mestinya tanpa bisa dideteksi adanya gangguan lain 
  • Flebitis : Terdapat pembengkakan, kemerahan serta nyeri sepanjang vena 
  • Trombosis : Terdapat pembengkakan di sepanjang pembuluh vena yang merusak aliran infus 
  • Kolonisasi kanul : Jika telah dapat dibiakkan mikroorganisme berdasarkan bagian kanula yg ada dalam pembuluh darah 
  • Septikemia : Jika kuman menyebar hematogen berdasarkan kanul 
  • Supurasi : Jika sudah terjadi bentukan pus pada lebih kurang insersi kanul (Utama, 2006) 

Beberapa faktor di bawah ini berperan pada menaikkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter, ukuran kateter, pemasangan melalui venaseksi, kateter yg terpasang lebih berdasarkan 72 jam, kateter yg dipasang dalam tungkai bawah, nir mengindahkan prinsip anti sepsis, cairan infus yg hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme, alat-alat tambahan dalam tempat infus buat pengaturan tetes obat, manipulasi terlalu tak jarang pada kanula. Kolonisasi kuman pada ujung kateter adalah awal infeksi tempat infus serta bakteremia.
Tentang-soal.