Iklan Responsive

TUGAS ILMU BEDAH ORTOPEDI POLIOMELITIS

TUGAS ILMU BEDAH

O R T O P E D I
“ POLIOMELITIS ”




S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIK) AVICENNA
KENDARI
2013

KATA PENGANTAR


            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT ,karena atas limpahan rahmat taufiq-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul: ”Ilmu Bedah  Ortopedi”. Shalawat serta taslim kita junjungkan pada nabi akbar  Muhammad SAW,keluarga,sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
           Kami  menyadari sepenuhnya ,meskipun sudah mengupayakan semaksimal mungkin buat menyempurnakan kualitas isi yg pada hidangkan,namun masih banyak kekurangan-kekurangan yakni masih jauh berdasarkan kesempurnaan.sang sebab itu, kami senantiasa memohon ridho Allah SWT dan sangat mengharapkan bimbingan menurut berbagai pihak,kritik dan saran yang sifatnya menciptakan demi kesempurnaan makalah ini.
          Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bisa bermamfaat,khususnya bagi kami serta pembaca dalam umumnya.      

  Kendari, 26 april2019

      Penyusun 


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bedah ortopedi atau orthopaedi (jua dieja orthopedi) adalah cabang ilmu kedokteran yg menilik tentang cedera akut, kronis, dan syok serta gangguan lain sistem muskuloskeletal. Dokter bedah ortopedi menghadapi sebagian besar penyakit muskuloskeletal termasuk artritis, syok serta kongenital memakai alat-alat bedah dan non-bedah.

Kelainan mobilitas pula merupakan suatu bentuk gangguan yg dapat mensugesti seorang pada melakukan kegiatan sehari-hari. Kelainan mobilitas akan segera mudah diketahui lantaran menyangkut adanya perubahan bentuk tubuh dari penyandangnya. Banyaknya penyakit yg melatarbelakangi karena-karena kelainan gerak bisa menyulitkan dalam mengetahui jenis kelainan gerak dan tingkat berat ringannya gangguan yg dialami sang masing-masing penyandangnya. Dalam makalah kali ini akan dibatasi pada pembahasan mengenai Poliomielitis, menggunakan restriksi ini dibutuhkan bisa mempermudah pada tahu penyakit Poliomielitis. Pembatasan penyakit Poliomielitis akan mencakup hal-hal sebagai berikut: pengertian, etiologi (karena-sebab), protogenesa, tanda-tanda-gejala, kelainan fungsi, komplikasi, prognosis, dan prinsip penanganan.

B. Tujuan
1.      Mengetahui apa itu Poliomielitis
2.      Etiologi Poliomielitis
3.      Patogenesa
4.      Gejala – Gejala
5.      Kelainan fungsi dampak poliomielitis
6.      Komplikasi
7.      Prognosis
8.      Prinsip penanganan


BAB II
PEMBAHASAN


A.pengertian
Poliomielitis atau polio merupakan penyakit paralisis atau lumpuh yang ditimbulkan sang virus yang dinamakan poliovirus (PV), virus ini masuk ke pada tubuh melalui ekspresi, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah serta mengalir ke sistem saraf pusat, yg bisa menyebabkan melemahnya otot, kelumpuhan, bahkan kematian. Penyakit poliomielitis sesungguhnya bukan penyakit pertama dalam otot-otot, tetapi penyakit yg menyerang mielium. Terutama sel-sel penggerak yang masih ada dalam bagian muka mielium tadi. Oleh karena itu kelainan yang timbul berkisar pada otot menggunakan bentuk kelumpuhan yg bersifat layuh (flaksid paralise). Penyakit ini dalam umumnya nir mengganggu kecerdasan ataupun ala-alat alat.
Poliomielitis ditemukan oleh Heine Medin pada tahun 1840. Pada awalnya poliomielitis lebih banyak ditemukan pada usia 5 tahun, tetapi sporadis ditemukan pada anak usia 6 bulan. Hal ini disebabkan oleh beberapa kemungkinan antara lain anak telah menerima kekebalan (imunitas) pasif yg diperoleh ibunya melalui plasenta dan adanya infeksi yg disebabkan berdasarkan kesehatan lingkungan yg jelek.

B.etiologi (Penyebab)
Telah dijelaskan pada atas bahwa penyakit ini disebabkan sang virus polio. Ada 3 tipe virus, yang pertama strain 1 (brunhilde), strain dua (lanzig), serta strain tiga (leon). Strain 1 (brunhilde) paling ganas, serta sering mengakibatkan wabah. Sedangkan strain dua (lanzig) yang paling jinak. Penyakit ini menular melalui kontak antar insan. Kontak dapat melalui penularan dari feses orang terinfeksi yang mengkontaminasi makanan dan minuman, buat kemudian masuk ke dalam ekspresi calon penderita. Setelah seorang terkena infeksi polio, virus akan keluar beserta feses selama beberapa minggu dan ketika itulah dapat terjadi penularan virus.
Selain virus polio yang bisa menyebabkan kelumpuhan yang menyerupai poliomielitis merupakan virus echo serta coxsackie. Penyebaran penyakit yang bersifat masal dan poly menyerang orang lantaran sifatnya yg akut umumnya penyebabnya adalah virus tipe leon. Sedangkan tipe-tipe yg lain misalnya tipe lanzig paling sporadis mengakibatkan kelumpuhan.

C.patogenesa
Virus polio menyebar melalui saluran pencernaan, dimulai berdasarkan verbal, tenggorokan, dan saluran pencernaan bagian bawah. Di loka tersebut virus akan menyebabkan infeksi, pada satu hari infeksi akan menyebar ke kelenjar getah bening, tonsil, usus halus, serta juga ke kelenjar mesentrium yang masih ada dalam usus. Hari ketiga virus berada dalam darah, lalu terjadi penyebaran ke loka lain sebagai infeksi sekunder. Pada infeksi sekunder terjadi multiplikasi virus bersamaan menggunakan tanda-tanda-tanda-tanda klinis.
Selain cara tersebut, virus bisa masuk ke dalam tubuh melalui suntikan. Melalui suntikan tersebut virus masuk saraf dan menyebabkan kelumpuhan, cara lain lagi melalui operasi tonsil (tonsilektomi).
Dengan masuknya virus polio ke pada tubuh serta adanya perkembangan biak virus dalam tonsil dan usus sehingga membuahkan terjadinya kerusakan dalam sel saraf (mielium), maka tubuh akan menunjukan reaksi-reaksi yang dapat adalah gejala-gejala sebagai petunjuk diagnose polio.

D.gejala-gejala
Kelmpuhan secara generik berbentuk flaksid paralise adalah manifestasi yg paling nyata menunjukkan adanya kerusakan sel saraf. Rasa sakit atau nyeri, spastisitas, hipertonus stadium dini diakibatkan oleh gangguan pada btg otak, ganglia spinalis, dan cornu posterior medulla spinalis.

Gejala-tanda-tanda yg muncul dapat dikelompokan, antara lain sebagai berikut:

a.silent infection
Pada tahap ini anak terserang penyakit poliomielitis sama sekali nir menunjukkan tanda-tanda apa-apa dan hanya dapat diketahui bila melakukan inspeksi laboratorium
b.abortive poliomielitis
Pada termin ini sudah terdapat tanda-tanda tetapi belum begitu kentara. Baru dicurigai, bila orang yang baru tadi baru kontak menggunakan penderita poliomielitis. Gejala bias berupa panas, lemas, tidak ada nafsu makan, muntah-muntah, sakit ketua, nyeri menelan, batuk, pilek.
c.non paralitik poliomielitis
Gejala-gejalanya hampir sama dengan abortive poliomielitis namun lebih hebat lagi, misalnya nyeri ketua, muntah-muntah, disertai dengan nyeri serta kekakuan pada otot-otot leher bagian belakang, badan dan anggota gerak tubuh mengalami hipertonus.
d.paralitik poliomielitis
Gejala mula-mula seperti non paralitik poliomielitis, lalu disusul menggunakan periode tanpa gejala tampak misalnya penyakit. Kelumpuhan jua dapat terjadi dalam kandung kencing selama 1-34 hari dan hilangnya kekuatan ketegangan otot usus, kadang-kadang sebagai penyakit usus berbelit.

E. Kelainan fungsi dampak poliomielitis
Kelainan fungsi dampak poliomielitis adalah adanya hambatan pada seseorang yang menyandang penyakit poliomielitis dikarenakan adanya kelumpuhan serta sifatnya menetap. Akibat kelumpuhan mampu mengakibatkan kendala tidak saja berdasarkan segi penampilan tetapi jua terhadap kegitan hidup sehari-hari.

Kelainan fungsi yang timbul diantaranya merupakan:
a.kelainan fungsi komunikasi
Kelainan fungsi komunikasi akan terjadi apabila terjadi kendala pada saluran pernafasan, namun hal ini jarang terjadi pada anak polio.
b.kelainan fungsi memelihara diri sendiri
Kelainan fungsi ini ada bila terdapat kelainan dalam anggiota gerak atas atau kelumpuhan pada otot badan. Kelainan ini menyebabkan kesulitan memegang, dan kesulitan berpindah tempat.
c.kelainan fungsi mobilisasi
Kelainan ini akan muncul apabila anggota mobilitas bawah mengalami kelumpuhan. Kelainan fungsi mobilisasi sanggup terjadi semenjak anak berguling, merangkak, duduk, berdiri, hingga berjalan.
d.keleainan fungsi sosial psikologis
Anak akan merasa rendah diri sebagai akibatnya mengakibatkan terhambatnya penyesuaian sosial.
e.kebutuhan fungsi mental
Kelainan fungsi mental dalam anak polio timbul bila anak mengalami gangguan sosial psikologis. Anak polio umumnya bisa mengikuti pendidikan dalam sekolah biasa.


F.komplikasi
Ada beberapa kemungkinan komplikasi serta akibat penyakit poliomielitis antara lain:

a.kontraktur sendi
Yang tak jarang terkena kontraktur antara lain sendi paha, lutut, serta pergelangan kaki.
b.pemendekan anggota gerak bawah
Biasanya akan tampak galat satu tungkai lebih pendek dibandingkan tungkai yang lainnya, ditimbulkan karena tungkai yg pendek mengalami antropi otot.
c.skoliosis
Tulang belakang melengkung ke salah satu sisi, disebabkan kelumpuhan sebagian otot punggung serta jua kebiasaan duduk atau berdiri yg galat.
d.kelainan telapak kaki
Kelainan telapak kaki bisa berupa kaki membengkok ke luar atau ke pada.
e.dislokasi
Yaitu sendi terkilir, bisa terjadi dalam sendi lutut, panggul, serta pergelangan kaki.

G.prognosis
Beberapa kemungkinan yang terjadi dalam anak yg terjangkit poliomielitis antara lain:

a.kematian
Hanya ditemukan 4% dalam masalah poliomielitis. Yang banyak mengakibatkan kematian merupakan tipe brunhilde.
b.kelumpuhan

Pada bentuk spinal dengan kelumpuhan penyembuhan secara paripurna hanya terjadi sekitar 20% kasus serta 50% menerangkan tanda-tanda sisa.
Kemungkinan yang terjadi setelah penyakit poliomielitis sembuh, yaitu yg herbi kelainan fungsi merupakan apabila pada 6 bulan belum ada perbaikan secara menyeluruh maka pemulihan fungsi di tangguhkan sampai 2-tiga tahun.

H.prinsip penanganan
Ada 2 macam penanganan poliomielitis, yaitu:
a.penanganan pada saat seseorang masih menderita penyakit poliomielitis.
b.penanganan dalam saat seorang sudah sembuh berdasarkan penyakit poliomielitis.

Penanganan yg diberikan disesuaikan dengan tanda-tanda-gejala yang muncul, seperti silent infection relatif dengan istirahat, tahap abortive polio menggunakan istirahat dan pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan kelainan muskuloskeletal (system gerak tubuh), tahap non paralitik dengan istirahat total sedikitnya dua minggu serta menggunakan observasi lebih teliti karena setiap saat dapat terjadi kelumpuhan pernafasan.
Untuk penanganan termin akut berdasarkan dalam gejala yang ada, misalnya rasa nyeri otot diberi obat penghilang sakit atau di beri pembalut hangat. Setelah tahap akut berlalu tindakan ditujukkan buat mengatasi akibat sekunder berupa kelainan fungsi. Penanganannya menggunakan mencegah komplikasi antropi ataupun kontraktur yg mungkin muncul antara lain melalui latihan mobilitas sendi atau meletakkan anggota tubuh dalam posisi yg sesuai.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Poliomielitis atau polio adalah penyakit paralisis atau lumpuh yg ditimbulkan oleh virus yang dinamakan poliovirus (PV). Penyebab polio merupakan virus, ada 3 tipe virus polio yaitu:

a.strain 1 (Brunhilde)
b.strain 2 (Lanzig)
c.strain 3 (Leon)

Virus polio menyebar melalui saluran pencernaan, dimulai berdasarkan ekspresi, tenggorokan, serta saluran bagian pencernaan bagian bawah. Gejala-tanda-tanda polio yg ada bisa dikelompokkan sebagai berikut:

a.silent infection
b.abortive poliomielitis
c.non paralisis poliomielitis
d.paralitik poliomielitis

Kelainan fungsi yg biasa di alami oleh penderita poliomielitis diantaranya:

a.kelainan fungsi komunikasi
b.kelainan fungsi memelihara diri
c.kelainan fungsi mobilisasi
d.kelainan fungsi sosial psikologis
e.kelainan fungsi mental.

B. Saran
Memberikan terapi pada penderita yg pada duga akan mengalami kelumpuhan parah, misalnya dengan menjalani fisioterapy, sebagai akibatnya pasien yg ototnya lemah nir sampai lumpuh total, walau jalannya sedikit pincang. Terapi tersebut dapat berupa latihan jalan, pemanasan, pijat dan beraneka ragam latihan menggunakan menggunakan alat.

Mencegah penyakit ini dengan kecukupan asupan gizi dalam balita guna menaikkan daya tahan tubuh, serta tidak tinggal diarea yang overcrowded dan terlalu kumuh demi mengurangi resiko penularan poliovirus.


RUJUKAN

Garrett, WE, et al. American Board of Orthopaedic Surgery Practice of the Orthopaedic Surgeon: Part-II, Certification Examination. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). 2006;88:660-667.
Tentang-soal.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel