MAKALAH KRIMINOLOGI SEBAGAI ILMU YANG MEMBANTU BAGI HUKUM PIDANA POSITIF

Contoh bahan makalah tentang KRIMINOLOGI SEBAGAI ILMU YANGMEMBANTU BAGI HUKUM PIDANA POSITIF


I.    Kriminologi sebagai suatuilmu yg berdiri tersendiri pada samping ilmu hukum pidana. Ilmu aturan pidanakhusus mengusut pelanggaran-pelanggaran kaidah-kaidah hukum ( rechtsnormen ) yg mengaturtindakan-tindakan insan pada pergaulannya menggunakan insan lain. Tetapipenglihatan delik itu sebagaisemata-mata suatu pelanggaran hukum , itulah nir cukup bagi suatu peradilanpidana yg modern, Delik itu terutama suatu perbuatan manusia( menselijkehandeling ), yaitu suatuperbuatan menurut insan dalam kontradiksi (conflict ) menggunakan beberapa kaidah, yaitu petunjuk hayati ( levensvoorschriften ), yg ditentukanoleh warga pada tengahnya insan itu hidup ( kaidah-kaidah sosial ). Delik sebagai tanda-tanda massa adalah suatu tanda-tanda sosial (kemasyarakatan ). Yang mempelajari delik sebagaisuatu perbuatan manusia serta suatu tanda-tanda sosial adalah kriminal atau ilmukejahatan. Pada ketika kini krimonologi telah menjadi suatu ilmu yg berdiritersendiri ( zelfstandige wetenschap )yang menyelidiki insan dalam pertentangan menggunakan kaidah-kaidah sosialtertentu. Perbedaan antara obyek kriminologi ( = insan pada pertentangandengan kaidah-kaidah sosial ) serta obyek ( ilmu ) hukum pidana ( = pelanggaranketertiban hukum ) dengan sendirinya mengakibatkan juga perbedaan antarapengertian “kejahatan”      ( misdaad-begrip ) menurut kriminologidan pengertian “kejahatan” dari         ( ilmu ) hukum pidana.
      Kriminologiitu suatu adonan ( complex )ilmu-ilmu lain, yg bisa dianggap ilmu bagian ( delwetenschap ) berdasarkan kriminologi ilmu yg menyeldiki danmembahas asal-usul kejahatan (etiologikriminil, crimineleaetiologi ) dilahirkan pada petengahan abad yanglampau. Pada saat itu terdapat beberapa pakar yg memberikan perhatian spesifik padamanusia yg melanggar kaidah-kaidah sosial tertentu dan loka insan yangmelanggar kaidah sosial itu pada dalam masyarakat. Juga diselidikitindakan-tindakan apa yg wajib diambil untuk mencegah atau mengurangi terjadinyakejahatan. “Kejahatan” bisa dicermati sebagai sesuatu yg bukan hanyapelanggaran aturan saja. “Kejahatan” itu bisa dikemukakan ( ontdekt ) sebagai terutama suatu perbuatan manusia serta suatugejala sosial ; yg melahirkan serta memajukan kriminologi pada faseperkembangannya yg pertama merupakan diantaranya LAMBROSO ( tahun 1835 – 1909 ),seorang tabib ( dokter ) penjara serta ahli psychiateri, lalu pengajar besardalam ilmu dokter kehakiman (gerechtleijke geneeskunde ), QUeTELET ( tahun 1796 – 1874 ). Seorang ahlistatistik serta pakar sosiologi, yg boleh dianggap sebagai pendasar ( gronddlegger ) statistic kriminil ( criminele statistiek ), LACASSAGNE (tahun 1843 – 1924 ), pengajar akbar pada ilmu dokter kehakiman, FERRI ( tahun 1856– 1929 ) guru besar pada hukum pidana. Pada akhir abad yg lampau, sikapbagian terbesar ahli-ahli kriminologi terhadap “kejahatan” adalah begitu baikdan fertile buat memajukan kriminologi, sebagai akibatnya pada permulaan abad ini ( abadke-20 ) kriminologi, menjadi suatu ilmu yg baru, secara cepat sekali telahdapat mencapai suatu kedudukan serta suatu mutu yg sederajat ( gelijkwaardig ) menggunakan kedudukan danmutu ilmu-ilmu sosial yg lebih tua, seperti ilmu hukum, ekonomi, danlain-lain. “Kejahatan”, yg bisa memajukan kriminologi begitu cepat, itulahyang disebabkan sang keinsyafan pakar-ahli kriminologi tadi akan bahayabesar serta kerugian besar yg bisa disebabkan sang kejahatan bagi individudan masyarakat. Mereka insyaf bahwa jumlah kejahatan itu tidak bisa dikurangidengan tindakan-tindakan pembalasan serta dengan dijatuhkan hukuman-hukumankeras, melainkan, mereka insyaf bahwa jumlah kejahatan itu hanya dapatdikurangi kalau mereka yg bertugas memberantas kejahatan memiliki suatupengertian perbuatan sesama manusia yg berdasarkan atas perikemanusiaan ( menslivend begrijpen van de daden van demede-mens ).
      Sejarahperkembangan kriminologi mengenal beberapa fase. Tiap fase diadakan oleh suatualiran eksklusif dalam kriminologi.
      Sebagaialiran yg paling pertama serta paling tua, bisa disebut genre antropologisatau mazhab Italia ( antrhopologischerichting atau Italianse school).Usaha QUeTELET, yg mendahului genre antropologis, tidak melahirkan suatumazhab. Yang melahirkan aliran antropologis artinya LOMBROSO. Pelajaran LOMBROSOterkenal dengan nama teori tentang insan penjahat karena kelahiran  ( leervan de geboren, misdadiger ). Menurut pelajaran ini maka kelahiran manusiatelah memilih talenta ( dasar, aanleg ).mereka yg mempunyai bakat buat menjadi penjahat itu pada umumnya jugamempunyai beberapa pertanda biologis eksklusif pada badan ( tubuh mereka ).misalnya, sebagai pertanda anatomis, orang yg bersangkutan mempunyai suatubentuk tengkorak        ( schedelvorm) yg eksklusif ; menjadi indikasi psikologis orang itu sangat malas, kejam,serta sebagainya. Pendeknya, penjahat adalah suatu tipe ( macam ) insan yangtertentu – popular : “tipe LOMBROSO”, yaitu suatu tipe manusia yg “gedegenereerd” ( de generasi, mundur ).justru pertanda-pertanda biologis itu membuktikan bahwa orang yg bersangkutanditakdirkan sebagai penjahat. Penjahat termasuk tipe manusia yg biologistelah tertakdir sebagai penjahat.
   Tetapibiarpun efek milieu itu diakui, akan tetapi pula bakat insan dianggap faktorterpenting yg memilih apakah seorang menjadi penjahat. Aliran ini, yangtetap berpegang pada konsepsi “geborenmisdadiger”,terkenal dengan nama aliran NEOLOMBROSO.
      PelajaranLOMBROSO dan genre antropologis kemudian mendapat tantangan hebat berdasarkan aliranmilieu atau mazhab Perancis. Aliran ini dilahirkan sang LACASSAGNE, yangmelakukan suatu serangan hebat terhadap genre antropologis pada premier congres internationalde.antrhopologie criminele dalam tahun 1885. Penganut-penganut lain yangtermasyur antara lain MANOUVRIER ( tahun 1850 – 1927 ) dan TARDE ( 1843 – 1904). Menurut mazhab Perancis maka faktor satu-satunya yg menyebabkan orangmelakukan kejahatan merupakan milieu buruk ditengahnya orang itu hidup. KataLACASSAGNE : “L” important est le milieusocial. Permettez-moi une comparaison empruntee a la theorie moderne. Le milieusocial est le bouilon de culture de la criminalite, le microbe, C’ est lecriminal, un element qui len’ a d. Importance due le jour ou il trouve lebouillon qui le fait termeneter” ( dikutip dalam BONGER-KEMPE, hal.98-99 ).tardE mengemukakan dengan tegas bahwa kejahatan itu bukan kenyataanantropolotis, tetapi semata-mata suatu tanda-tanda sosial, yg seperti gejalasosial-gejala sosial yg lain, dipengaruhi sang hukum meniru ( lois de l’imitation, kitab terpenting TARDE bernama Les lois de l’imitation, 1890 ),kata TARDE : “Tous les actes importantsde la vie sociale sont executes sous l’ empire de l’ example”   ( dikutip pada BONGER – KEMPER, hal.100 ).
      Seorangpengarang yg juga sangat mengutamakan milieu,sebagai faktor yg mengakibatkan kejahatan, merupakan BONGER. BONGER nir menganutteori milieu itu menurut pelajaran-pelajaran mazhab Perancis, BONGERmenjadi penganut teori milieu sebagai penganut pelajaran MARX. Aliran milieu ini sangat memperkuatdeterminisme.
      Berhubungdengan hal aliran milieu ini sangat berat sebelah ( eenzijdig ), maka kemudian genre tadi mendapat tantangan.ferrI lah yg berhasil menciptakan suatu kompromis antara aliran anthopologis danaliran milieu. Kompromis yg dicapaiFERRI ( buku terpenting merupakan SociologiaCriminale, 1881, kemudian diterbitkan pada bahasa Perancis : Sociologie Criminelle terkenal dengannama genre bio-sosiologis. Menurut genre bio-sosiologis ini, yg dalam waktusekarang masih permanen merupakan aliran yg memiliki paling poly penganut,maka terjadinya kejahatan itu ditentukan sang baik tabiat serta sifat pribadipenjahat juga milieu, tempatpenjahat hayati serta melakukan perbuatannya. FERRI membuat rumus sebagai berikut: tiap kejahatan adalah hasil impak bersama-sama faktor-faktor individual,sosial serta fisik. Yang dimaksud menggunakan faktor-faktor individuil merupakan bakatpenjahat seperti yg dilukiskan sang LOMBROSO.
      Ahli-ahlikriminologi yg menganut genre bio-sosiologis itu diantaranya  ASCHAFFENBURG( tahun 1866 – 1945 ). ( Das Verbrechenund seine Bekamfung, cetakan pertama tahun 1904 ) serta EXNER ( tahun 1880 –1947 ).       ( Kriminologie,1949 ; cetakan ke 2 buku ini bernama Kriminalogie( 1939 ), sesuai menggunakan rakisme (orang Jerman menjadi Ueber-mensch )yang pada ketika itu merajalela pada bawah pemerintah kaum Nazi di negeri Jerman.
      Usahamenyelidiki serta membahas asal-usul kejahatan ( etiologi kriminil, criminele aetiologie ) terdiri atas duausaha lain :
  1. Usaha menyeldiki faktor-faktor individual yg “criminogeen” ( hayati kriminil, criminile biologie ).
Biologi kriminil menyeldiki faktor-faktor seperti :tabiat dan sifat pribadi penjahat ( tabiat danm sifat pribadi yg egoistis,egosentris, kuat dan lemah ), perasaan ( misalnya, orang yg bersangkutanlekas naik darah ( marah ) atau tidak, orang tenang, dan sebagainya,sebab-sebab yg patologis                     ( pathologische oorzaken ). Biologi kriminil ini mempergunakanhasil-hasil penyelidikan psychology kriminil, psychiateri kriminil danstatistic kriminil.
  1. Usaha memeriksa faktor-faktor milieu atau faktor-faktor sosial ( sosiologis kriminil, criminele sociologie ).
Sosiologi kriminil menyelidiki faktor-faktor sosial (misalnya perumahan warga , kemakmuran rakyat, pertentangan kelas ( spesifik dilapangan sosial serta ekonomi ), dampak “onkerkelijkheid”( orang yg tidak lagi begitu taat pada kewajiban menjalankan rukun agama ),pengangguran, akibat didirikan tempat-tempat umum alcohol ( bar, khusus dikota-kota pelabuhan ) dan dansa ( dancing), dan sebagainya, pendidikan yg diberi kepadanya, pergaulan paling eratdengan siapa dan sebagainya dan iklim ( musim panas, dan sebagainya ).
           
      Pembuat danperbuatan adalah satu. Pembuat dan perbuatan merupakan satu gabungan ( complex) yg tidak dapat dipecah-belah. Kita tidak dapat mengerti arti makna ( inti )perbuatan ( kejahatan ) kalau tidak mengerti maksud ( intetic ) penghasil ( penjahat ), dan kebalikannya.
      Oleh RIJKSEN ( De impasse der sociologische criminology,kuliah generik Utrecht1955, ditegaskan bahwa kriminologi hendak menyelidiki insan penjahat dalamsegala seginya, yaitu hendak mempelajari “deveenleenheid mens in al zijn aspecten”. Sosiologi kriminil maupunantropologi ( kriminil ), bersama-sama menilik satu kompleks ;pembuat-perbuatan. Kedua ilmu tersebut hanya memiliki perbedaan titik beratsaja : sosiologi kriminil memberikan perhatian spesifik terhadap kejahatan sebagaisuatu kenyataan massa(massaal verschijnsel ), sepertikorupsi pada kalangan pegawai tinggi ( “whitecollarcrimes” ), sedangkan antropologi kriminil memberikan perhatian khususterhadap kejahatan menjadi fenomena individuil.
      Kriminologi,sebagai suatu ilmu yg mempelajari kompleks pembuat-pembuatan dalam segalaseginya, mempergunakan dan membahas hasil-hasil penyelidikan banyak ilmu lain,seperti psychology, psychiateri, fisiologi, antropologi, statistic, ilmu hukum,ekonomi, sosiologi, ( untuk Indonesiapenting ) etnologi ( antropologi sosial ), dan lain-lain. Boleh dikatakan bahwakriminologi itu suatu ilmu yg meliputi segala segi manusia dalam pertentangandengan beberapa kaidah-kaidah sosial tertentu. BAAN mengatakan kriminologiadalah “de overkoepelende wetenschap vande mens in conflict met bepaalde sociale normen”. Tetapi kriminologi itubiarpun mencakup banyak menurut ilmu-ilmu lain, masih juga mempunyaipersoalan-persoalannya sendiri dan cara-cara ( methoden ) sendiri untuk menuntaskan dilema-persoalantersebut. Kriminologi adalah suatu ilmu mengenai manusia ( menswetenschap ) yg berdiri tersendiri, yaitu suatu ilmutentang manusia yg khusus mempelajari manusia dalam konflik.
      Terapi belumsemua ahli ilmu sosial mengakui kriminologi itu sebagai suatu ilmu yg berdiritersendiri. Misalnya di Amerika Serikat, khusus ahli-ahli sosiologi, masihmelihat kriminologi itu sebagai suatu ilmu bagian                         ( deelwetenschap ) dari sosiologi. SIMONS dahulu masih melihatkriminologi menjadi suatu bagian berdasarkan ilmu aturan pidana.

II.  Kriminologisebagai ilmu yg membantu (hulpwetenschap ) bagi ( ilmu ) hukum pidana positif dan peradilan pidana,maka kriminologi itu merupakan suatu ilmu yg membantu ( hulpwetenschap ).
Pentingnya kriminologi itu bagi hukumpidana positif dan peradilan pidana dipengaruhi oleh perilaku sarjana hukum pidanayang bersangkutan terhadap cara menjalankan hukum pidana positif serta peradilanpidana. Asas “iedre misdadiger dietherapie krijge, die hij behoeft”, berpendirian bahwa  tidak mingkinlah mempelajari atau menjalankanhukum pidana positf atau menjalankan suatu peradilan pidana yg baik tanpapengetahuan elementer tentang kriminalogi. Disamping itu, pengetahuankriminologis ( criminologische kennis )itu jua sangat krusial dalam bisnis membangun ius constituendum pidana.

III. Perpustakaan kriminologisebagai pembacaan terpenting tentang kriminologi bisa diklaim :
  1. Bahasa Belanda : VAN BEMMELEN, Criminologie, Leerboek der misdaadkunde aan de hand van Nederl.gegevens en onderzoekingen, 1952 ; BONGER ( disadur oleh KEMPER ), Inleiding tot de criminology, 1954 ; NOACH, Criminologie, 1954 ; Prof. Mr. M.P. Vrij, verzameling uit zijn geschriften op gebied van strafrecht en criminology, 1956 ; KEMPE, Misdaad en wengedrag voor, tijdens en naden oorlog, opstellen over criminology, 1947 ; Schulding zijn, pidato peresmian Utrecht 1950, dan criminology in Existentialistiche Doorlichting, pada Tijdschrift v.strafrecht, 61, hal.166 djb. ; NAGEL, het straftrecht en de onments, pidato peresmian Leiden 1956, BIANGHI, Waar en waarom misdaad, kuliah umum Amsterdam 1958.
  2. Bahasa Inggris : VON HENTIG, Crime, Causes and Conditions, 1947 ; BARNES serta TEETERS, New Horizons in Criminology, 1955 ; SUTHERLAND ( disadur sang CRESSY ), Principles of Criminology, 1955, HURWITZ, criminology, 1952 ( mengenai kriminologi di Negeri Denmark ), BIANCHI, Position and Subject-matter of Criminology. Definisi : “Crime is a sinful, eithically blameworhly, defiant and erreoneous act, eventually prohibited by penal law, at any rate deserving to be followed by conscious counteraction on the part of society, which in its behaviour-aspects is the evidence of a failure of reciprocal socio-psychial adjustment of society and the individual, being a ‘dificient’ mode of expression by which man runs counter to his own self”. Jadi, dari definisi BIANCHI ini terlihat bahwa kejahatan itu pula pertentangan dengan langsung ( wezen )
    atau jiwa manusia penjahat sendiri.
  3. Bahasa Perancis : DE GREEFF, Introduction a la criminologie, 1948 ; CONSTANT, Elements de criminologie, 1948 ; LAIGNEL – LVASTINE serta STANCIU, Precis de criminologie, 1950.
  4. Bahasa Jerman. PAUL REIWALD, Die Gesellschaft und ihre Verbrecher, 1948 ( ada terjemahan dalam bahasa Inggris ) ; lebih generik : EXNER, Kriminologie, 1949 ; SAUER, Kriminologi, 1950, SEELIG, lehrbuch der Kriminologie, 1951.

Di Indonesia sampai sekarang belum ada suatuperpustakaan kriminologi yg berarti. Baru ada dua karangan, yaitu dalambahasa Belanda dari NOACH, twee jaarcriminaliteit in Jakarta ( 1949 en 1950 ), pada Tijdshrift v. Scraftrecht, 61, hal.26 djb., serta dalam bahasa Indonesiadari PAUL MUDIKDO MULJONO, LembagaKriminologi, dalam Berita MajelisIlmu Pengetahuan Indonesia tahun ke-11, 1, hal.8-18.





Tentang-soal.