Iklan Responsive

MODUL V PERSIAPAN PRAKONDISI DI PLPG 2019 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA


Peserta PLPG2017 akan melaksanakan contoh Prakondisi pada PLPG 2017, Demikian informasi yang dikutipdari www.sertifikasiguru.id., Salah satu ketentuan padaPrakondisi di PLPG 2017 merupakan Peserta PLPG 2017 wajib menilik ModulPedagogik dan Modul Pendalaman Materi Bidang Studi secara mandiri dandapat diunduh melalui laman sertifikasiguru.id

(PETUNJUKPELAKSANAAN PRAKONDISI DI PLPG 2017 BISA DIUNDUH DI SINI)

Sebagaipersiapan pendalaman modul Materi Bidang Studi Bahasa Indonesia pada prakondisiPLPG 2017 kami sajikan Modul 5 Pendalaman Bidang Studi Bahasa Indonesia. Modulini adalah modul pada PLPG 2016. Pada modul lima ini dibahas Teori dan GenreSastra Indonesia.




TEORI DAN GENRE SASTRA INDONESIA
Drs. Azhar Umar, M.pd






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016














BAB V
TEORI DAN GENRE SASTRA INDONESIA




A. Tujuan
Setelahmempelajari sumber belajar ini, pengajar diperlukan bisa memahami teori serta genresastra Indonesia, baik pada wujud puisi, prosa, juga drama menggunakan baik.
B. Kompetensi serta Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Guru Mata
Pelajaran
Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Memahami teori dan
aliran sastra Indonesia.
1. Mengidentifikasi teori struktural
menurut cuplikan naskah cerpen
yg tersaji.
2. Mengidentifikasi pantun dengan tepat
dari karakteristik-cirinya
3. Tiga. Mengidentifikasi gurindam dengan
tepat dari karakteristik-cirinya
4. Mengidentifikasi syair dengan tepat
dari karakteristik-cirinya
5. Mengidentifikasi genre puisi dengan
sempurna.
6. Mengidentifikasi genre (prosa) dengan
sempurna.
7. Mengidentifikasi genre drama dengan
sempurna.
2. Mengapresiasi karya sastra secara reseptif
serta produktif.
1. Mengapresiasi puisi Indonesia (puisi
lama : pantun)
2. Mengapresiasi puisi Indonesia (puisi
usang: gurindam)
3. Mengapresiasi puisi Indonesia (puisi
baru: soneta)
4. Mengapresiasi prosa Indonesia (Prosa
lirik: Kaba Minangkabau).
5. Mengapresiasi prosa Indonesia (prosa lama : hikayat)
6. Mengapresiasi prosa Indonesia
(prosa usang: dongeng)
7. Mengapresiasi prosa Indonesia (prosa
baru: novel)
8. Mengapresiasi prosa Indonesia (prosa
baru: cerpen)
9. Mengapresiasi teks drama Indonesia


C. Uraian Materi
1. Teori serta Genre Puisi Indonesia
.
Secara etimologi, kata puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yangberarti ‘menciptakan’ atau poeisis ‘pembuatan’, dan dalam bahasa Inggris disebutpoem dan poetry. Puisi diartikan ‘membuat’ dan ‘pembuatan’ karenalewat puisi dalam dasarnya seseorang telah membangun suatu dunia tersendiri yangmungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik
fisik maupun batiniah.
Dengan mengutip pendapat Mc. Caulay serta Hudson, Aminuddin (1987: 134)membicarakan bahwa puisi merupakan keliru satu produk sastra yg menggunakankata-istilah sebagai media penyampaian buat berakibat delusi dan khayalan,misalnya halnya lukisan yg menggunakan
garis dan rona dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Rumusan pengertianpuisi pada atas, ad interim ini, dapatlah diterima karena kita seringkali diajukoleh suatu ilusi mengenai estetika, terbawa pada suatu angan-angan, sejalandengan estetika penataan unsur suara, penciptaan
gagasan, maupun suasana eksklusif sewaktu membaca puisi.
Puisi adalah karya sastra yang imajinatif. Bahasa sastra bersifat konotatifkarena poly memakai makna kias dan makna lambang (majas). Dibandingkandengan bentuk karya sastra yang lain, puisi lebih bersifat konotatif. Bahasanyalebih mempunyai kemungkinan banyak makna. Hal ini ditimbulkan adanyapengkonsentrasian atau pemadatan segenap kekuatan
bahasa pada pada puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi pula padat. Keduanyabersenyawa secara padu.
Deskripsi pada atas seluruhnya berkenaan dengan bentuk fisik serta bentuk batinpuisi. Bentuk fisik puisi merupakan bahasa atau struktur, sedangkan bentuk batinpuisi merupakan isi atau tema. Marjorie Boulton (1979: 17 serta 129) menyebut keduaunsur pembentuk puisi itu menggunakan bentuk fisik (physical form) dan bentukmental (mental form).

Strukturpuisi dalam dasarnya mempunyai dua unsur yang sama menggunakan unsur puisi menurutMarjorie pada atas, yaitu unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik puisiberkaitan dengan bentuk, sedangkan unsur batinnya berkaitan dengan isi danmakna. Menurut Herman J. Waluyo (2008: 76), struktur fisik yg dianggap jugadengan metode puisi terdiri menurut (1) diksi, (2) pengimajian, (tiga) istilah nyata,(4) bahasa figurasi atau majas, (lima) versifikasi, dan (6) tata wajah atautipografi. Struktur fisik atau metode puisi tersebut pula dipengaruhi olehpenyimpangan penggunaan bahasa atau sintaksis. Adapun struktur batin adalahstruktur yang herbi tema,
perasaan, nada dan suasana, amanat atau pesan.
1.1 Ragam Puisi Berdasarkan Bentuk dan Isi
Ditinjau berdasarkan bentuk maupun isinya, puisi dapat dikelompokkan ke dalamberbagai ragam berikut: (1) puisi deskriptif, (dua) puisi lirik, (3) Puisi deskriptif,(4) puisi fisikal, (lima) puisi platonic, (6) puisi metafisikal, (7) puisi subjektif,(8) puisi objektif, (9) puisi konkret, (10) puisi diafan, (11) puisi prismptis,(12) puisi parnasian, (13) puisi inspiratif, (14) puisi pamphlet, (15) puisidemonstrasi, dan (16) puisi alegori.
Puisi naratif adalah puisi yang di dalamnya terkandung suatu cerita, denganpelaku, perwatakan, setting, juga rangkaian peristiwa eksklusif yangmenjalin cerita tadi. Termasuk ke pada jenis puisi ini merupakan apa yangbiasa dianggap menggunakan balada yg dibedakan antara folk ballad, menggunakan literaryballad. Balada adalah ragam puisi yang berkisah mengenai kehidupanmanusia dengan segala macam sifat pengasihnya, kecemburuan, kedengkian,ketakutan, kepedihan, dan keriangannya. Jenis puisi lain yang termasuk pada puisinaratif adalah poetic tale sebagai puisi yg berisi dongeng-dongengrakyat.
Puisi lirik adalah puisi yg berisi luapan batin individual penyairnya dengansegala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yangmelingkupinya. Jenis puisi lirik umumnya paling poly masih ada di dalamkhazanah sastra moderen Indonesia, misalnya tampak pada puisi-puisi ChairilAnwar, Sapardi Djokodamono, Goenawan Mohammad, serta lain-lainnya (Aminuddin,1987: 135).
Puisi naratif adalah puisi yang mencoba memberi kesan terhadap keadaan/peristiwa,benda, atau suasana yg dicermati menarik perhatian oleh penyair. Jenis puisiyang bisa diklasifikasikan ke dalam puisi deskriptif, misalnya, puisi satire,kritik sosial, dan puisi-puisi impresionistik. Satire juga merupakanpuisi yang menyampaikan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan,namun menggunakan cara menyindir atau meyatakan keadaan kebalikannya.
Puisi fisikal bersifat realistis, ialah mendeskripsikan kenyataan apa adanya.yang dilukiskan merupakan kenyataan serta bukan gagasan. Hal-hal yg dilihat,didengar, atau dirasakan adalah obyek ciptaannya. Puisi-puisi deskriptif,ballada, puisi yg bersifat impresionistis, dan juga puisi dramatis biasanyamerupakan puisi fisikal.
Puisi platonik adalah puisi yg sepenuhnya berisi hal-hal yg bersifatspiritual atau kejiwaan. Puisi-puisi pandangan baru atau harapan dapat dimasukkan kedalam penjabaran puisi platonik. Puisi-puisi religius serta didaktik jua dapatdikategorikan sebagai puisi platonik yang mengungkap nilai
spiritual dan pendidikan secara eksplisit.
Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis serta mengajak pembacamerenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan.
Puisi subyektif juga diklaim puisi personal, yakni puisi yang mengungkapkangagasan, pikiran, perasaan, dan suasana pada diri penyair sendiri.
Puisi obyektif berarti puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyairitu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi deskriptif dandeskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun pula ada beberapa yangsubyektif.
Puisi nyata sangat terkenal dalam global perpuisian Indonesia sejak tahun1970. X.J. Kennedy pada Herman J. Waluyo (2008:159) menyebut puisi jenis inisebagai bersifat visual yang dapat dihayati estetika bentuknya dari sudutpenglihatan (poems for the eye).
Puisi diafan, atau puisi polos, adalah puisi yang kurang sekali menggunakanpengimajian, kata konkret dan bahasa figuratif, sehinggauisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisiyang demikian akan sangat gampang dihayati maknanya.
Puisi prismptis adalah puisi yang berupaya menyelaraskan kemampuanmenciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehinggapembaca nir terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak jugaterlalu gelap.
Puisi parnasian adalah puisi menurut sekelompok penyair Perancis pada pertengahanakhir abad 19 yg menerangkan sifat atau nilai keilmuan. Puisi parnasiandiciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan, bukan didasari olehinspirasi atau adanya mood dalam jiwa penyair.
Puisi inspiratif diciptakan dari mood atau passion.penyair benar-sahih masuk ke pada suasana yg hendak dilukiskan. Suasanabatin penyair benar-sahih terlibat ke dalam puisi itu.
Puisi demonstrasi mengacu pada puisi-puisi Taufiq Ismail serta
mereka yg sang Jassin diklaim Angkatan 66. Puisi ini adalah hasil refleksidemonstrasi para mahasiswa dan pelajar – KAMI-KAPPI- lebih kurang tahun 1966.menurut Subagio Sastrowardojo, puisi-puisi demonstrasi 1966 bersifat kekitaan,artinya melukiskan perasaan gerombolan bukan perasaan individu.
Puisi pamfet juga berbasis protes sosial. Disebut puisi pamfet lantaran bahasanyaadalah bahasa pamfet. Kata-pungkasnya mengungkapkan rasa nir puas kepadakeadaan. Munculnya kata-istilah yang berisi protes secara spontan tanpa protespemikiran atau perenungan yg mendalam.
Puisi alegori adalah puisi yg sering menyampaikan cerita yg isinyadimaksudkan buat menaruh nasihat mengenai budi pekerti dan kepercayaan . Jenisalegori yang populer adalah parable yang pula disebut dongeng perumpamaan.di dalam buku kudus poly dijumpai dongeng-dongeng perumpamaan yg maknanyadapat dicari pada balik istilah-istilah yg tersurat.
1.2 Jenis-jenis Puisi
1.dua.1 Puisi Lama
Puisi usang merupakan puisi yang terikat sang anggaran-aturan. Karena itu, puisi lamabiasanya bersifat anonim (merupakan puisi warga yg tidak dikenal namapengarangnya); disampaikan secara ekspresi berdasarkan individu ke individu lain;merupakan sastra mulut; terikat anggaran jumlah baris tiap bait,
jumlah suku istilah maupun rima. Termasuk ke dalam puisi lama adalah pantun,gurindam, dan syair.
1.2.1.1 Pantun
Pantun pada mulanya adalah senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan. Dalamkesusastraan, pantun pertama kali timbul dalam Sejarah Melayu danhikayat-hikayat populer yang sezaman. Kata pantun sendiri memiliki asal-usulyang cukup panjang dengan persamaan berdasarkan bahasa
Jawa yaitu istilah parik yang berarti pari, artinya paribasa atauperibahasa pada bahasa Melayu. Arti ini pula berdekatan menggunakan umpama danseloka yang berasal berdasarkan India.
Menurut H. Overbeck, yang terpengaruh sang pendapat Abdullah Munsyi, pasanganatau dua baris pertama pada pantun memang tidak memiliki arti; tidak memilikihubungan pikiran sama sekali, atau hanya buat menjadi penentu sanjak rimapada pasangan atau 2 baris kedua
pantun. Pantun merupakan puisi Melayu orisinil yang relatif mengakar dan membudaya dalammasyarakat.
Pantun mempunyai ciri-ciri bentuk sebagai berikut: (1) Setiap bait terdiri atasempat baris, (dua) Baris pertama dan kedua berfungsi sebagai sampiran, (3) Barisketiga serta keempat merupakan isi, (4) Bersajak a – b – a – b, (lima) Setiap baristerdiri atas 8 – 12 suku kata, dan (lima) Berasal dari wilayah atau masyarakatMelayu (Indonesia).
Contoh Pantun:
(1) Ada pepaya terdapat mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)
1.2.1.dua Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yg dari dari Tamil (India) . Gurindam memilikicirri-ciri sebagai berikut: (1) Setiap bait terdiri berdasarkan dua baris, (dua) Sajakakhir berirama a – a, b – b, c – c, serta seterusnya; (3) Berasal berdasarkan Tamil (India);(4) Isinya adalah petuah , yakni mengungkapkan atau menampilkan situasi sebabakibat; serta (5) Bersifat mendidik.
Contoh Gurindam
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang (b)
Bagai tempat tinggal tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus (c)
Istri pun kelak sebagai kurus ( c )
1.dua.1.3 Syair
Syair merupakan puisi lama yang berasal menurut Arab. Ciri – ciri syair adalah sebagaiberikut: (1) Setiap bait terdiri berdasarkan empat baris; (dua) Setiap baris terdiri dari8 – 12 suku kata; (3) Bersajak a – a – a – a; serta (4) Semua baris merupakanisi, nir memiliki sampiran.
Contoh Syair :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin oleh raja nan bijaksana (a)
Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi fertile (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)
Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan bagus cantik parasnya (a)
Adil serta jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)
1.dua.dua Puisi Baru
Puisi baru adalah puisi yg lebih bebas daripada puisi usang, baik pada segijumlah baris, suku kata, maupun rima. Di antara jenis puisi baru merupakan soneta.soneta merupakan puisi yg terdiri atas: (1) empat belas baris; (2) empat baityang dibangun sang 2 quatrain dan dua terzina; (tiga) 2
quatrain adalah sampiran serta adalah satu kesatuan yg diklaim oktaf; (4)dua terzina merupakan isi serta adalah satu kesatuan yang diklaim sextet; (5)bagian sampiran umumnya berupa citra alam; (6) sextet yang berisi curahanatau jawaban atau simpulan berdasarkan apa yg
dilukiskan pada octav; (7) voltayang merupakan peralihan berdasarkan octav ke sextet;(8) koda yg adalah penambahan baris pada soneta; (9) sembilan sampai empatbelas suku istilah pada tiap baris; serta (10) rima akhir a-b-b-a, a-b-b-a, c-d-c,dan d-c-d.
Contoh soneta
Gembala
Perasaan siapa takkan nyala (a)
Melihat anak berelagu dendang(b)
Seorang saja ditengah padang(b)
Tiada berbaju buka ketua (a)
Beginilah nasib anak gembala (a)
Berteduh dibawah kayu nan rindang (b)
Semenjak pagi meninggalkan sangkar (b)
Pulang kerumah di senja kala (a)
Jauh sedikit sesayup sampai (a)

Terdengar olehku suara serunai (a)
Melagukan alam nan molek permai (a)
Wahai gembala pada segara hijau (c)
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau (c)
Maulah aku menurutkan dikau (c)
1.2.3 Puisi Kontemporer
Kata kontemporer secara generik bermakna masa sekarang, sesuai dengan perkembanganzaman, atau selalu mengikuti keadaan dengan perkembangan zaman. Puisikontemporer dapat diartikan sebagai puisi yg lahir pada kurun waktuterakhir. Puisi pada masa ini berusaha lari dari ikatan
konvensional puisi pada umumnya. Puisi pada masa ini tak jarang memakai istilah-katayang kurang memerhatikan kesantunan bahasa; memakai istilah-istilah kasar, ejekan,dan lain-lain. Pemakaian istilah-kata simbolik atau lambang intuisi, gaya bahasa,irama, serta sebagainya dianggap nir begitu penting lagi.
Puisi kontemporer pernah sangat popular pada Indonesia dalam dasawarsa 1980-an.penyair-penyair tanah air yg pernah malang melintang serta menjadi peloporpuisi kontemporer di Indonesia, di antaranya, merupakan Sutardji Calzoum Bachri,Ibrahim Sattah, dan Hamid Jabbar. Sutardji populer
dengan 3 perpaduan puisinya, yakni O, Amuk, dan O Amuk Kapak. IbrahimSattah popular dengan formasi puisinya Hai Ti. Sedangkan Hamid Jabbar masyhurdengan gugusan puisinya Wajah Kita.
Puisi pada masa ini tidak tampil dalam bentuk yang benar-sahih seragam diantara para penyairnya. Ada beberapa bentuk puisi kontemporer. Yang palingmenonjol di antaranya merupakan puisi mantra. Puisi mantra adalah puisiyang mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji Calzoum Bachri merupakan orang yangpertama memperkenalkan puisi mantra dalam puisi pada masa ini.
Puisi mantra mempunyai karakteristik-ciri menjadi berikut: (1) tidak dihadirkan untukdipahami pembaca, melainkan disajikan buat menyebabkan impak atau akibattertentu; (dua) berfungsi menjadi penghubung manusia dengan dunia rahasia; (tiga)mengutamakan impak atau dampak berupa kemanjuran serta kemanjuran itu terletakpada perintah. Contoh puisi (pada masa ini) mantra
adalah menjadi berikut:
Shang Hai
ping pada atas pong
pong pada atas ping
ping ping bilang pong
pong pong bilang ping
mau pong? Bilang ping
mau mau bilang pong
mau ping? Bilang pong
mau mau bilang ping
ya pong ya ping
ya ping ya pong
tak ya pong tak ya ping
ya tidak ping ya tak pong
sembilu jarakMu menancap nyaring
(Sutardji Calzoum Bachri dalam O Amuk Kapak, 1981)
2. Teori serta Genre Prosa Indonesia
Slamet Mulyana mengemukakan, istilah prosa asal dari bahasa latin oratioprovorsa yang berarti ‘ucapan pribadi bahasa dialog’ sehingga prosaberarti bahasa bebas, bercerita, dan ucapan pribadi. Kata prosa diambil daribahasa Inggris, prose, yang berarti ‘bahasa tertulis atau
tulisan’. H.B. Jasin mengemukakan, prosa itu pengucapan dan pemikiran bahasadalam karangan ilmu pengetahuan. Prosa ditulis dari pikiran serta menjauhisegala yg mungkin menggerakkan perasaan. Prosa semacam ini seringkali disebutsebagai prosa ilmiah. Namun
demikian, terdapat jua prosa yg bersifat sastra. Prosa jenis ini haruslah memenuhisyarat kesenyawaan yg serasi antara bentuk serta isi, kesatuan yg serasiantara pikiran dan perasaan.

Prosasastra diklaim juga menggunakan istilah prosa fiksi. Kata fiksi asal berdasarkan fiction(bahasa Inggeris) yang berarti ‘fitnah’. Dengan demikian, dapatlahdisimpulkan bahwa prosa fiksi adalah cerita rekaan dimana tokoh, peristiwa danlatar pada dalamnya bersifat imajiner.
Sudjiman, (1984:17) menyebut prosa fiksi ini dengan kata ceritera rekaan,yaitu kisahan yg mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang didapatkan oleh dayakhayal atau imajinasi, dalam ragam prosa. Prosa, menjadi galat satu bentukcipta sastra, mendukung fungsi sastra dalam umumnya.
Fungsi prosa adalah buat memperoleh estetika, pengalaman, nilai-nilai moralyang terkandung pada cerita, serta nilai-nilai budaya yang luhur. Selain itu,prosa dapat juga mengembangkan cipta, rasa, serta membantu pengebanganpembelajaran (secara tidak pribadi).
Prosa menjadi galat satu bentuk karya sastra, acapkali menbimbulkan masalah dalammengajarkannya. Hal ini timbul lantaran cerita yg ditulis dalam bentuk prosapada umumnya panjang. Masalah ini tentu saja dapat memengaruhi prosespembelajaran prosa lantaran bimbingan apresiasi yg menyangkut teks enggandiberikan. Seperti halnya puisi, prosa pun sebaiknya
dinikmati sang murid secara utuh supaya fungsi prosa sahih-sahih terwujud.
Secara umum, prosa dikelompokkan atas prosa usang serta prosa baru. Paparanmengenai ke 2 gerombolan prosa tersebut dapat ditinjau dalam bagian berikut.
2.1 Prosa Lama
Prosa usang merupakan karya sastra yg berbentuk cerita atau narasi; berbedadengan pantun, gurindam, dan sebagainya. Disebut prosa usang lantaran produksastra ini selalu bersifat anonim (tanpa nama penulis), sangat statis, danselalu dipercaya milik beserta. Lantaran dianggap milik beserta, hampir semuaproduk prosa usang disebut cerita rakyat Cerita warga merupakan sastra lisanyang berkembang di masyarakat, terutama dalam masa lalu. Cerita warga adalahcerita yang pada dasarnya disampaikan oleh seorang kepada orang lain melaluipenuturan lisan, yakni
penciptaan, penyebaran, serta pewarisannya dilakukan secara mulut melalui tuturkata satu orang ke orang lainnya di kalangan warga pendukungnya secaraturun–temurun menurut satu generasi ke generasi. Cerita warga terdiri dariberbagai versi, umumnya nir diketahui pengarangnya
(anonim).
William R. Bascom dalam James Danandjaja (2007 : 50) membagi cerita warga kedalam 3 kelompok, yaitu mite, legenda, dan dongeng. Di sisi lain, terdapat jugaahli sastra yang memasukkan hikayat ke pada gerombolan cerita masyarakat. Di dalambuku sumber belajar ini, hanya akan dibahas lebih lanjut tentang dongeng danhikayat.
2.1.1 Dongeng
Menurut Sudjiman (1986: 15), dongeng adalah cerita tentang makhluk khayali.makhluk khayali yg menjadi tokoh-tokoh cerita semacam itu biasanyaditampilkan menjadi tokoh yang mempunyai kebijaksanaan buat mengatur masalahmanusia menggunakan segala macam cara. Bascom dalam James Danandjaja ( 2007: 50)menyatakan bahwa dongeng adalah cerita prosa rakyat yg dipercaya tidakbenar-benar terjadi oleh yg memiliki cerita, dan dongeng tidak terikat olehwaktu maupun loka. Dongeng adalah cerita yang tidak sahih-benar terjaditerutama dalam zaman dahulu.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa dongeng merupakan cerita mengenai makhluk peri.kenyataannya, poly dongeng yang tidak menceritakan kehidupan para peri.sejumlah dongeng bercerita tentang isi serta plot cerita yg lumrah.
Beberapa ahli sastra usang membagi dongeng atas empat golongan akbar, yakni: (1)dongeng binatang, (2) dongeng biasa, (tiga) lelucon dan anekdot, serta (4) dongengberumus.
Dongeng hewan adalah dongeng yg ditokohi binatang. Binatang-hewan inidigambarkan sebagai sosok yg pintar berbicara serta berakal budi sepertimanusia. Jenis hewan yang selalu dilibatkan di dalam cerita dongeng, antaralain, anjing, rubah, kelinci, buaya, harimau, gajah, serta kancil. Di Indonesia,cerita dongeng yang melibatkan kancil menjadi tokoh cerita sangat banyakjumlahnya. Di dalam cerita-cerita itu, kancil selalu digambarkan sebagai sosokbinatang yg cerdas dan baik budi. Sementara itu, menjadi tokoh versus daribinatang yg cerdas dan baik budi, dihadirkan sosok binatang yg pandir yangselalu menjadi bulan-bulanan binatang yang
cerdik dan cerdas tersebut. Dalam berbagai cerita dongeng, sosok fauna misalnya ini,contohnya, beruang, buaya, harimau, dan sebagainya.
Dongeng biasa merupakan jenis dongeng yang ditokohi manusia, dan umumnya berupakisah senang-duka seorang. Di Indonesia, dongeng biasa yang sangat popularbertipe “Cinderella”. Dongeng bertipe ini relative poly jumlahnya, misalnya“Bawang Putih dan Bawang Merah” (Jakarta), “Si Melati dan Kecubung” (JawaTimur), serta sebagainya.
Lelucon serta anekdot adalah dongeng-dongeng yg bisa menggelikan hatisehingga mengakibatkan tawa bagi yg mendengar juga yang menceritakan. Anekdotmenyangkut kisah fiktif lucu seorang atau beberapa orang tokoh yg benar-benarada. Sedangkan lelucon menyangkut kisah fiktif lucu kolektif, seperti sukubangsa dan ras. Misalnya kisah lucu
Albert Enstein di sebut anekdot, sedangkan kisah lucu orang Israel dianggap lelucon.
Dongeng-dongeng berumus merupakan dongeng yang, sang Antti Aarne serta StithThompson (pada KSG Unimed, 2013: 316), diklaim formula tales. Struktur dongengini terdiri atas pengulangan-pengulangan. Subbentuk dongeng berumus adalahdongeng yg bertimbun dongeng buat mempermainkan orang, dan nir memilikiakhir. Dongeng, yang juga diklaim dongeng berantai, ini merupakan cerita yang dibentukdenganmenambah warta lebih rinci dalam setiap pengulangan inti cerita. Simaklahdongeng berumus beikut ini:
Alkisah, pada suatu lorong pada suatu hari, seseorang nyonya lari terbirit-biritketakutan karena diburu seekor tikus mini . Tikus kecil lari terbirit-biritketakutan karena diburu seekor kucing. Kucing lari terbirit-birit ketakutankarena diburu seekor anjing. Anjing lari terbirit-birit ketakutan karena diburuseorang pemabuk Israel. Pemabuk Israel lari terbirit-birit ketakutan karenadiburu polisi. Polisi lari terbirit-birit ketakutan karena diburu MOZAD.
2.1.2 Hikayat
Hikayat adalah jenis prosa lama yang berkisah tentang riwayat hidup seorangtokoh. Riwayat hidup tokoh yang diceritakan adakalanya realistis, menggunakan sumberinformasi dan data terpercaya. Tetapi, ada juga hikayat yang sumberpenceritaannya bercampur baur antara fakta dan fiksi atau opini penulisnya.
Hikayat berisi cerita kebaikan dan kemuliaan oleh tokoh dalam masa hidupnya.“Hikayat Nabi Idris”, contohnya, berisi cerita mengenai kejujurannya, kesalehannya,kepatuhannya beribadah kepada Allah, menjauhi seluruh larangan Allah, dan samasekali tidak mau merampas hak orang lain (lihat Djamaris dkk., 1985: 7). Karenaberbicara tentang kebaikan dan kemuliaan
seorang tokoh, maka hikayat ditulis buat berfungsi menjadi pemberi wawasan,petuah , panduan hidup, serta wangsit kepada pembaca. Dengan membaca hikayat,seorang diperlukan dapat mengganti dan memperbaiki kualitas hidupnya pada masadepan.
2.2 Prosa Baru
Prosa baru adalah karya sastra yang berbentuk cerita atau narasi jua, samadengan prosa usang. Disebut prosa baru lantaran produk sastra ini tidak lagibersifat anonim (tanpa nama penulis). Penulis prosa baru telah sangat sadarakan hak-hak individualnya serta karena itu merasa memiliki kewenangan untukmencantumkan namanya dalam karya prosa yg mereka tulis. Dengan
demikian, karya-karya prosa yg mereka tulis nir bisa lagi dipercaya sebagaimilik bersama rakyat, melainkan milik individu penulis.
Selain itu, prosa baru sudah memperlihatkan semangat yang bergerak maju, baik dalamhal isi atau tema maupun bentuknya. Para penulis prosa baru telah memilikikeberanian menuliskan sesuatu yang tidak sama serta bahkan menentang hal-hal yangmenjadi kebiasan generik. Isi atau tema prosa baru sudah bersifat masyarakatsentris. Semua perubahan ini dimungkinkan lantaran para penulis prosa baru mulaimendapat pengaruh yang kuat dari perkembangan sastra Barat. Kenyataan ini jauhberbeda berdasarkan ciri prosa usang yg isi atau temanya selalu disebutbersifat istana sentris, yakni berorientasi kepada kepentingan penguasa.
Sebagai karya sastra, prosa baru hadir pada aneka macam bentuk, misalnya cerpen,novel, serta drama. Paparan tentang bentuk-bentuk prosa baru tadi dapatdilihat dalam bagian berikut.
2.2.1 Cerita Pendek
Cerita pendek, atau acapkali disingkat dengan cerpen, adalah suatu bentuk prosanaratif fiktif. Berapa ukuran panjang atau pendek yang dimaksud memang tidakada aturan baku yang dianut juga konvensi di antara pengarang dan paraahli. Edgar Allan Poe, pada Burhan
Nurgiantoro (1995: 11), menyatakan bahwa cerita pendek adalah sebuah ceritayang selesai dibaca sekali duduk, kira-kira berkisar antara 1/2 jam sampaidua jam.
Untuk memilih panjang pendeknya cerpen, khususnya berkaitan dengan jumlahkata yang dipakai, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat. Menurut Statoncerpen umumnya menggunakan 15.000 istilah atau setara dengan kurang lebih 50halaman. Sedangkan Notosusanto menyatakan bahwa jumlah istilah yg digunakan didalam cerpen lebih kurang lima.000 istilah atau
kira-kira 17 laman kuarto dengan spasi rangkap (lihat KSG Unimed, 2013: 292).
Cerita pendek, selain kependekannya ditunjukkan oleh jumlah penggunaan katayang relative terbatas, insiden dan isi cerita yg disajikan jua sangatpendek. Peristiwa yg disajikan memang singkat, namun mengandung kesan yangdalam. Isi cerita memang pendek karena
mengutamakan kepadatan ilham. Karena itu, insiden serta isi cerita dalam cerpenrelatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan roman atau novel.
Cerita pendek cenderung padat dan eksklusif pada tujuannya dibandingkankarya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novel. Karena singkatnya, cerita-ceritapendek yg sukses mengandalkan teknik-teknik sastra, seperti tokoh, plot,tema, bahasa, serta insight, secara lebih luas dibandingkan menggunakan fiksilain yang lebih panjang. Disyaratkan sang H.B. Jassin bahwa cerita pendekharuslah memiliki bagian perkenalan, konfrontasi, dan penyelesaian (Korrie LayunRampan, 1995: 10).
Ciri-karakteristik cerita pendek, menurut Stanton (2007: 76), merupakan: (1) haruslahberbentuk padat, (dua) realistik, (3) alur yg mengalir dalam cerita bersifatfragmentaris dan cenderung inklusif. Sedangkan berdasarkan Guntur Tarigan,cirri-ciri cerpen adalah: (1) singkat, padu, serta intensif (brevity, unity, danintensity), (dua) mempunyai unsur primer berupa adegan, tokoh, serta gerak
(scene, character, dan action), (tiga) bahasanya tajam, sugestif, danmenarik perhatian (incisive, suggestive, dan alert), (4)mengandung impresi pengarang mengenai konsepsi kehidupan, (5) menimbulkan efektunggal dalam pikiran pembaca, (6) mengandung detil dan insiden yangbenar-benar terpilih, (7) memiliki pelaku primer yang menonjol dalam cerita, dan(8) menyajikan kebulatan impak serta kesatuan emosi.
Berdasarkan aneka macam batasan serta ciri cerita pendek pada atas, bisa disimpulkanbahwa cerita pendek adalah bentuk prosa fiktif deskriptif yang habis dibaca sekaliduduk, serta mengandung perseteruan dramatik. Cerita pendek adalah cerita fiksibentuk prosa yg singkat yang unsur ceritanya berpusat dalam satu peristiwapokok sehingga jumlah serta pengembangan pelaku
terbatas, dan keseluruhan cerita memberi kesan tunggal.
2.2.1.1 Unsur Intrinsik Cerita Pendek
Unsur intrinsik merupakan unsur-unsur yg membentuk karya sastra. Unsur-unsurinilah yang menyebabkan karya sastra hadir menjadi karya sastra; unsur-unsuryang yg secara faktual akan dijumpai bila orang membaca karya sastra.
Unsur intrinsik cerpen bisa dikelompokkan ke pada enam bagian, masingmasing:(1) tema, (2) alur, (3) penokohan atau perwatakan, (4) latar, (5) sudut pandangatau point of view, serta (6) amanat. Pembahasan terhadap unsurunsurintrinsik pembangun cerita pendek yangtelah disampaikan pada atas diuraikan sebagai berikut.
Tema. Tema merupakan makna yang dikandung sang sebuah cerita atau gagasandasar umum yang menopang sebuah karya. Tema sebagai dasar pengembangan seluruhcerita sehingga bersifat menjiwai holistik cerita. Tema suatu karya sastraletaknya tersembunyi serta harus dicari sendiri oleh pembaca. Pengarang karyasastra nir akan secara gamblang mengatakan
apa yang menjadi inti permasalahan hasil karyanya, walaupun kadangkadangterdapat kata-istilah atau kalimat kunci dalam keliru satu bagian karya sastra.melalui kalimat kunci itu pengarang seolah-olah merumuskan apa yg sebenarnyamenjadi pokok permasalahan.
Ada beberapa cara untuk menafsirkan tema menurut Stanton (2007: 44), yakni: (1)wajib memperhatikan detil yg menonjol pada cerita rekaan, (dua) tidakterpengaruh oleh detil cerita yang kontradiktif, (3) nir sepenuhnya bergantungpada bukti-bukti tersirat, kadang-kadang harus yang eksplisit jua, (4) temaitu dianjurkan secara jelas oleh cerita yang bersangkutan. Perlu dibubuhi disini bahwa faktor pengarang menggunakan pandangan-pandangannya turut memilih tema karyanya. Penokohan. Penokohan merupakansalah satu unsur dalam cerita yg mendeskripsikan keadaan lahir juga batinseseorang atau pelaku. Setiap insan memiliki karakter yg berbeda-beda.karena cerpen pada dasarnya menceritakan
manusia pada herbi lingkungannya, maka setiap tokoh pada ceritaakan mempunyai watak yang tidak sinkron antara satu menggunakan yang lainnya. Melaluikarakter tokoh cerita, pembaca mengikuti jalan cerita sebagai akibatnya maksud ceritaakan sebagai lebih jelas.
Istilah tokoh merujuk pada orang atau pelaku cerita. Watak, perwatakan, dankarakter, memilih dalam sifat dan sikap para tokoh. Penokohan serta karakterisasisering disamakan merupakan dengan karakter serta perwatakan. Penokohan menunjukpada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu pada sebuahcerita (Nurgiantoro, 1995: 165).
Jadi yang dimaksud menggunakan penokohan atau ciri adalah ciriciri jiwaseseorang tokoh dalam suatu cerita. Seluruh pengalaman yg dituturkan dalamcerita kita ikuti dari tingkah laris dan pengalaman yang dipelajarimelalui pelakunya. Melalui konduite ilmiah pembaca mengikuti jalannya seluruhcerita dan dari karakter, situasi cerita dapat
dikembangkan.
Plot atau Alur. Plot atau alur adalah urutan peristiwa yg adalah dasarterciptanya sebuah cerita. Alur sanggup tampak apabila pengarang sanggup membangunsaling hubung antara tema, pesan, dan amanat pada cerita. Cerita bergerak darisatu insiden ke peristiwa yang lain. Masing-masing peristiwa itu disusunsecara runtut, utuh dan saling berhubungan sehingga
membangun plot. Plot merupakan unsur fiksi yang krusial, bahkan poly orangmenganggap menjadi unsur yang terpenting. Plot bisa mempermudah pemahamanseseorang mengenai suatu cerita. Tanpa plot, pembaca akan kesulitan memahamisuatu cerita. Plot karya fiksi yang kompleks sulit dipahami hubungan kaosalitasantarperistiwanya. Akibatnya, cerita sulit dipahami. Dalam suatu ceritabiasanya dituliskan aneka macam insiden pada urutan eksklusif. Peristiwa yangdiurutkan itulah yg disebut alur atau plot. Plot umumnya dikelompokkan atastiga tahap, yakni awal-tengah-akhir. Tahap awal sering disebut jugadengan termin perkenalan. Tahap ini berisi informasi-keterangan penting yangberhubungan menggunakan berbagai hal yang
akan dikisahkan berikutnya. Tahap tengah, atau tahap pertikaian, menampilkankonflik atau kontradiksi yg telah mulai dimunculkan dalam termin sebelumnya. Tahapakhir, atau termin peleraian, menampilkan adegan tertentu dampak titik puncak.pada bagian ini, dimunculkan akhir dari cerita.
Latar (setting). Latar, atau biasa diklaim dengan setting, merujukkepada pengertian tempat¸ hubungan saat, dan lingkungan sosial loka terjadinyaperistiwa pada cerita. Latar menaruh kesan realistis pada pembaca. Latardibedakan dalam 3 unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Latar tempatmerujuk dalam lokasi terjadinya peristiwa, latar ketika
berhubungan dengan masalah kapan insiden terjadi, serta latar social mengacukepada hal-hal yg herbi konduite kehidupan social masyarakatdalam cerita.
Sudut Pandang (point of view). Sudut pandang, atau point ofview, adalah cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang menjadi saranauntuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan banyak sekali insiden yg membentukcerita dalam sebuah karya fiksi pada pembaca (Abrams, pada BurhanNurgiantoro, 1995: 248). Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnyamerupakan strategi, teknik, siasat, yg secara sengaja dipilih pengarang untukmengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yg dikemukakan pada karyafiksi, memang milik pengarang. Tetapi, semuanya itu, dalam karya fiksi,disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kaca mata tokoh cerita (BurhanNurgiantoro, 1995: 248). Sudut pandang atau point
of view
penceritaan dapat dibedakan atas 3 macam, masing-masing: (1) sudutpandang orang pertama; pengarang menjadi saya (gaya akuan) Dalam hal ini,pengarang bisa bertindak sebagai omnicient (serba tahu) dan dapat jugasebagai limited (terbatas), (dua) pengarang menjadi orang ketiga (gaya diaan).dalam hal ini, pengarang dapat bertindak menjadi omniscient (serba
tahu) serta bisa pula bertindak limited (terbatas), (tiga) point of view gabungan,artinya pengarang menggunakan campuran menurut gaya bercerita pertama serta ke 2.
Gaya. Gaya dapat diartikan sebagai gaya pengarang pada bercerita ataugaya bahasa yang dipakai pengarang dalam karyanya. Keduanya salingberhubungan, yaitu gaya seorang pengarang dalam bercerita akan terlihat jugadalam bahasa yg digunakannya.
Gaya bahasa adalah aktualisasi diri personal, keseluruhan respons, pengarang terhadappersitiwa-insiden melalui media bahasa, seperti: jenis bahasa yg dipakai,kata-istilah, sifat atau karakteristik spesial khayalan, struktur, dan iramakalimat-kalimatnya. Menurut Herman J. Waluyo serta Nugraheni (2008: 41), gayapengarang satu menggunakan yang lainnya tidak sama. Karena itu, bahasa
karya sastra bersifat ideocyncratic, artinya sangat individual.perbedaan gaya itu disebabkan sang perbedaan pemikiran serta kepribadian.
Amanat. Amanat adalah suatu ajaran moral yg ingin disampaikan pengarang.panuti Sujiman (1988: 51) menyatakan bahwa amanat adalah gagasan yang mendasarikarya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. MenurutSuharianto (1982: 71), amanat dapat
disampaikan secara tersurat serta implisit. Tersurat ialah pengarang menyampaikanlangsung kepada pembaca melalui kalimat, baik berupa kabar pengarang ataupun berbentuk obrolan pelaku. Seorang pengarang, dalam karyanya, nir hanyasekedar ingin memgungkapkan
gagasannya, namun juga mempunyai maksud tertentu atau pesan tertentu yangingin disampaikan pada pembaca. Pesan eksklusif itulah yg diklaim amanat.
Amanat dalam sebuah karya sastra umumnya mencerminkan pandangan hiduppengarang yg bersangkutan, pandangan mengenai nilai-nilai kebenaran dan berbagai hal yg ingin disampaikan pengarangkepada pembaca. Amanat dalam cerita biasanya dimaksudkan menjadi suatu saranyang herbi hal tertentu yg bersifat praktis, yang dapat diambildan ditafsirkan lewat cerita yg bersangkutan sang pembaca.
2.2.dua Novel
Novel merupakan keliru satu jenis fiksi. Novel serta cerita pendek merupakan duabentuk karya sastra yang sekaligus dianggap fiksi. Bahkan dalam perkembangannyayang lalu, novel dipercaya bersinonim menggunakan fiksi. Dengan demikian,pengertian fiksi jua berlaku buat novel (Burhan Nurgiantoro, 1995: 9).
Herman J. Waluyo (2002: 37) mengemukakan bahwa novel mempunyai ciri: (1) adaperubahan nasib berdasarkan tokoh cerita; (dua) ada beberapa episode dalam kehidupantokoh utamanya; (3) biasanya tokoh primer tidak hingga meninggal. Di pada noveltidak dituntut kesatuan gagasan, impresi,
emosi serta setting seperti dalam cerita pendek.
Secara etimilogis, istilah novel berasal menurut kata novellus yangberarti ‘baru’. Jadi, novel adalah bentuk karya sastra cerita fiksi yg palingbaru. Novel adalah satu genre sastra yg dibangun sang unsur-unsur pembangun yangsecara fungsional memiliki keterjalinan. Untuk membangun totalitas makna denganmedia bahasa sebagai penyampai gagasan pengarang mengenai hidup serta seluk-belukkehidupan manusia.
Telaah struktur novel dalam konteks ini akan dilakukan dengan pendekatanintertekstualitas. Dalam pendekatan intertekstualitas, penulis menekankan bahwastruktur novel terdiri menurut unsur instrinsik serta unsur ekstrinsik.
2.dua.2.1 Unsur Intrinsik
Unsur-unsur instrinsik novel terdiri atasi (1) tema, (2) plot atau alur, (3)penokohan, (4) perwatakan atau karakterisasi, (5) setting atau latar, serta (6)sudut pandang atau point of view. Unsur-unsur ekstrinsik novel terdiriatas: (1) biografi pengarang, (dua) karya-karya pengarang, (tiga) proses kreatif pengarang,serta (4) unsur sosial budaya.
Tema adalah gagasan dasar umum sebuah karya novel. Gagasan dasar umuminilah yang tentunya telah ditemukan sebelumnya oleh pengarang dan dipergunakanuntuk membuatkan cerita. Dengan istilah lain, cerita tentunya akan “setia”mengikuti gagasan dasar generik yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai akibatnya berbagaiperistiwa konflik serta pemilihan banyak sekali
unsur instrinsik yg lain, misalnya penokohan, pelataran, serta penyudutpandangandiusahakan mencerminkan gagasan dasar umum tadi.
Alur Cerita atau Plot, menurut Lukman Ali (1978: 120), merupakan sambungsinambung insiden menurut hukum sebab akibat yang nir hanyamengemukakan apa yg terjadi, tetapi yang lebih penting merupakan mengapa hal ituterjadi. Alur cerita terdiri berdasarkan 3 bagian, yaitu: (1) alur
awal, terdiri atas gambaran (eksposisi), rangsangan (inciting moment), danpenggawatan (rising action); (2) alur tengah, terdiri atas pertikaiaan (conflict),perumitan (complication), serta klimaks atau puncak penggawatan (climax);(tiga) alur akhir, terdiri berdasarkan peleraian (falling action) danpenyelesaian (denouement). Pertarungan cerita yang dari dariperistiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya. Falling action adalahperedaan konflik cerita. Perseteruan yang telah mencapai puncak , akhirnya menurunkarena telah terdapat tandatanda adanya penyelesaianpertikaian. Denouement adalah penyelesaian yg dipaparkan olehpengarang pada mengakhiri penyelesaian permasalahan yg terjadi.
Penokohan serta Perwatakan mempunyai interaksi yg sangat erat. Penokohanberhubungan dengan cara pengarang menentukan serta memilih tokohnya dan memberinama tokoh dalam cerita. Perwatakan berhubungan dengan ciri ataubagaimana tabiat tokoh-tokoh itu. Keduanya berkaitan dengan tokoh-tokoh dalamcerita novel. Membicarakan perwatakan, Mochtar Lubis (1981: 18) memasukkannyadalam teknik cerita dengan menyebut sebagai citra rupa atau eksklusif atauwatak pelakon (character delineation).
Setting atau Latar
berfungsi memperkuat pematutan serta factor penentu bagikekuatan plot, begitu istilah Marjeric Henshaw (dalam Herman J. Waluyo, 2002:198). Abrams membatasi setting menjadi loka terjadinya peristiwa dalam cerita(1977: 157). Dalam setting, menurut Harvy (1966: 304), faktor waktu lebihfungsional daripada faktor alam. Wellek mengatakan
bahwa setting berfungsi buat mengungkapkan perwatakan dan kemauan yangberhubungan dengan alam dan manusia (Wellek, 1962: 220). Herman J. Waluyomengatakan bahwa setting adalah tempat kejadian cerita (2009: 34).
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas bisa dikatakan bahwa setting ceritaberkaitan dengan waktu serta loka penceritaan. Waktu dapat berarti siang danmalam, lepas, bulan, serta tahun; bisa juga berarti di pada atau pada luarrumah, di desa atau di kota, dapat pula pada kota mana, pada
negeri mana serta sebagainya. Unsur setting lain yang nir dapat dipisahkan adalahhasil budaya masa lalu, indera transportasi, alat komunikasi, rona local dandaerah, serta lain-lain.
Setting berfungsi: (1) mempertegas watak pelaku; (2) memberikan tekanan padatema cerita; (tiga) memperjelas tema yang disampaikan; (4) metafora bagi situasipsikis pelaku; (lima) menjadi atmosfir (kesan); (6) memperkuat posisi plot Pointof View atau Sudut Pandang mengacu
kepara cara sebuah cerita dikisahkan. Ia adalah cara serta atau pandangan yangdipergunakan pengarang menjadi sarana buat menyajikan tokoh, tindakan, latar,serta aneka macam insiden yang membentuk cerita pada sebuah karya fiksi kepadapembaca.
Nurgiyantoro (2009: 256-266) mengungkapkan, terdapat tiga jenis sudut pandang, yaitu:(1) sudut pandang persona ketiga: “beliau” yg terdiri berdasarkan: (a) “beliau” Mahatahu;(b) “dia” terbatas, “dia” sebagai pengamat; (2) sudut pandang persona pertama“aku ” yang terdiri berdasarkan (a) “saya” tokoh primer, serta (b) “aku ” tokoh tambahan;(3) sudut pandang adonan. Sudut pandang adonan ini dapat terjadi antarasudut pandang persona ketiga dengan teknik “dia” mahatahu dan “beliau” sebagaipengamat, persona pertama menggunakan teknik “aku ” sebagai tokoh utama, dan “saya”tambahan, bahkan dapat berupa campuran antara persona pertama dan personaketiga, antara “saya serta “beliau” sekaligus.
2.dua.dua.2 Unsur Ekstrinsik Novel serta Cerpen
Unsur ekstrinsik adalah unsur yg berada di luar teks novel, namun memberipengaruh yang tidak kalah kuatnya terhadap isi novel dan cerpen daripada unsurintrinsik. Beberapa ahli sastra berkata bahwa unsur ekstrinsik bahkan lebihmenentukan dimensi isi karya novel dan cerpen. Unsur ekstrinsik mencakup: (1)latar belakang masyarakat, (dua) latar belakang seseorang pengarang, serta (tiga)nilai-nilai yg terkandung pada pada novel. Latar belakang masyarakat sangatberpengaruh pada penulisan novel serta cerpen. Latar belakang warga tersebutbisa berupa, antara lain, kondisi politik, idiologi negara, kondisi sosial, danjuga syarat perekonomian warga .
Latar belakang seseorang pengarang terdiri atas biografi pengarang,syarat psikologis pengarang , genre sastra yang dimiliki penulis, danminatnya terhadap sesuatu sangatlah mensugesti terbentuknya sebuah cerpenatau novel. Riwayat hayati sang penulis mempengaruhi jalan pikir penulis atausudut pandang mereka tentang suatu. Faktor riwayat hayati ini mempengaruhi gayabahasa serta aliran khusus seseorang penulis novel/cerpen. Kondisi psikologismerupakan mood atau
motivasi seseorang penulis saat menulis cerita. Mood atau psikologis seorangpenulis ikut mempengaruhi apa yang terdapat di pada cerita mereka, contohnya jikamereka sedang murung atau gembira mereka akan membuat suatu cerita sedih ataugembira pula. Aliran sastra adalah “kepercayaan ” bagi seseorang penulis serta setiappenulis memiliki genre sastra yng bhineka. Hal ini sangat memengaruhigaya penulisan dan aliran cerita yg biasa diusung oleh sang penulis di dalamkaryakaryanya. Nilai- nilai yang terkandung pada dalam cerpen/novel, sepertinilai agama,
nilai social, nilai moral, serta nilai budaya, turut memilih arah karyapenulis.
2.dua.3 Prosa Lirik
Prosa Lirik adalah galat satu bentuk karya sastra dalam ragam prosa yangditulis serta diungkapkan dengan memakai unsur-unsur puisi. Meskipunbahasanya berirama, serta pencitraannya misalnya puisi, namun ikatan antarkatadalam sebuah kalimat, atau interaksi antarkalimat pada sebuah paragraf (secarasintaksis) lebih mendekati bentuk prosa.
Suroso (dalam Mudini dkk, 2016;77) menuliskan bahwa prosa lirik adalah karanganberbentuk prosa yg berisi curahan perasaan misalnya puisi. Ciri-karakteristik prosa lirik:(1) Ikatan kalimatnya berbentuk prosa, (2) terdapat irama yang selaras dengan perasaanyang terkandung pada dalamnya. (tiga) bersifat liris; curahan perasaan. (4) nir terdapatsajak pada dalamnya. Kalaupun terdapat sajak, hanya kebetulan saja, (5) tidak untukmembawakan keterangan, tetapi berisikan lukisan perasaan eksklusif yg dikandungpengarang. (6) karangan disusun paragraf demi paragraf misalnya prosa
biasa, serta (7) prosa lirik masih ada pada kesusastraan baru.
Contoh Prosa Lirik:
Berselisih
(Karya Amir Hamzah)
Berselisih kami, ia dua berjalan, saya seperti selamanya
seorang diri. Adiknya yg dipimpinnya itu menoleh-noleh ke
belakang, matanya berkilat-kilat melihat segala berwarna warni,
putar-rimutar, kelap- kumilap pada tepi jalan itu.
Ya, panjang-jinjing, lembut-lemah, kudungnya, tertudungsingkap, diusap- usapangin, ditolak-tolakkan anak rambutnya.
Berhenti ia, payung bertulis, dihujam agak tipis, dipanas relatif mini ,
dilihat, dipulung- pulungnya, ditawarnya, kemahalan ...

Terhenti saya, kakiku enggan terus, pada hadapanku berdiri
perempuan tua, sanggulnya merangkum kuntum, layu belum,
kembang tak jadi. Bertanya dia. Menoleh beliau ke belakang, kulihat
matanya seketika, rasaku bercermin pada air yg jernih, dangkal
entahkan dalam, kelopak matanya yg segan terbuka, enggan
bertemu itu, melayap-hinggap semangatku serasa bermimpi,
mendaduhkan hatiku yang rusuh-gundah ini...
Di manakah saya telah melihatnya? Kutandai muka dan rupa,
bangun serta anggunnya, kukenal seluk-bentuk tubir bibirnya ...
Aduh hatiku, terasa ada, terkatakan nir.
3 . Teori dan Genre Drama Indonesia
3.1 Pengertian Drama
Kata drama asal berdasarkan bahasa Yunani draomai yang berarti ‘berbuat’,‘berlaku’, atau ‘bertindak’. Jadi, secara literal, drama berarti ‘perbuatan’atau ‘tindakan’. Tetapi demikian, menjadi istilah di pada dunia sastra, dramapada awalnya diartikan sebagai kualitas komunikasi, situasi, action (segalayang terlihat pada pentas) yg menimbulkan perhatian, kehebatan (acting),serta ketegangan dalam para pendengar/penonton. Dalam perkembangan selanjutnya,kata drama mengacu kepada bentuk karya sastra yg berusaha mengungkapkanperihal kehidupan insan melalui mobilitas percakapan pada atas panggung, atau suatukarangan yang disusun dalam bentuk percakapan dan yang bisa dipentaskan. Olehkarena itu, pada naskah drama selain percakapan pelaku, berisi pula petunjukgerak atau penerangan mengenai gerak-gerik dan tindakan pelaku, peralatan yg dibutuhkan,penataan pentas atau anjung, musik pengiring, serta sebagainya.
Ciri spesial drama adalah naskahnya berbentuk dialog atau obrolan. Dialogbahkan disebut-sebut sebagai hal yg paling membedakan drama berdasarkan karya fiksilainnya, seperti cerpen dan novel (KSG Unimed, 2013: 265). Dialog menjadibagian awal yg langsung terlihat tidak sama berdasarkan teks fiksi lainnya. Artinya,teks drama lebih secara umum dikuasai bagian dialognya dibandingkan
dengan teks fiksi lainnya.
Dalam menyusun dialog, pengarang harus memperhatikan pembicaraan tokoh-tokohdalam kehidupan sehari-hari dan pantas buat diucapkan pada atas panggung. Ragambahasa dalam dialog tokoh-tokoh drama merupakan bahasa mulut yg komunikatif danbukan ragam bahasa tulis. Pilihan
kata (diksi) pun dipilih sesuai menggunakan dramatic action dari plat out.diksi herbi irama lakon, artinya panjang pendeknya istilah-istilah dalamdialog berpengaruh terhadap konflik yg dibawakan lakon.dialog pada sebuahdrama pun harus estetis atau mempunyai keindahan bahasa. Namun, nilai estetistersebut nir boleh mengganggu makna yang terkandung dalam naskah. Selain itu,dialog wajib hidup. Artinya, obrolan wajib dapat mewakili tokoh yg dibawakan.untuk itu, observasi pada lapangan perlu dilakukan oleh penulis buat membantumenulis dialog drama agar realistis.
Pementasan drama haruslah mengandung unsur keindahan atau keindahan. Kualitaskedua unsur drama di atas terutama bergantung dalam: (1) naskah lakon; (2) aktordan aktris pendukungnya; (tiga) pola pengagendaan atau mis en scene; (4)rapikan artistik; (5) tata rias ; (6) tata kostum; (7) rapikan
cahaya; (8) rapikan suara; (9) tata musik; dan (10) rapikan gerak. Drama dibangunoleh unsur-unsur tema, plot, tokoh, karakter, latar, dan amanat serta unsurbahasa yg berbentuk obrolan. Unsur-unsur ini akan dibahas lebih lanjut padabagian berikut ini.
3.1.1 Tema
Tema merupakan dasar atau inti cerita. Suatu cerita harus memiliki tema ataudasar, serta dasar inilah yg paling penting berdasarkan seluruh cerita. Cerita yangtidak memiliki dasar tidak terdapat merupakan sama sekali atau tidak berguna (Lubis,1981: 15). Tema menjadi central idea and sentral purpose
merupakan inspirasi serta tujuan sentral (Stanton, 1965: 16). Tema bisa muncul darikeseluruhan cerita, sehingga pemahaman antara seseorang penikmat dengan penikmatlain tidak sama (Jones, 12968: 31). Ada pula yang beropini bahwa temamerupakan arti serta tujuan cerita (Kenny, 1966:
88).
Menurut Nurgiyantoro (1995: 70), tema bisa ditinjau sebagai gagasan dasarumum sebuah karya novel. Gagasan dasar generik inilah yg tentunya telahditentukan sebelumnya oleh pengarang dan dipergunakan buat mengembangkancerita. Dengan kata lain cerita wajib mengikuti gagasan utama berdasarkan suatu karyasastra.
Pendapat di atas dapat mendeskripsikan simpulan bahwa: (1) tema merupakan dasarsuatu cerita rekaan; (2) tema harus ada sebelum pengarang mulai denganceritanya; (3) tema pada cerita atau novel tidak ditampilkan secara eksplisit,tetapi tersirat di pada semua cerita; serta (4) pada satu cerita atau novelterdapat tema secara umum dikuasai atau tema sentral dan tema-tema mini lainnya.

3.1.2Plot atau Plot
Plot atau plot adalah rangkaian cerita yg dibuat dalam tahapantahapanperistiwa sebagai akibatnya menjalin suatu cerita yang utuh. Plot disusun tidak lepasdari tema. Jalan cerita yang disusun atau dijalin nir boleh meloncat ke laintema. Tiap-tiap insiden akan berhubungan sebagai akibatnya
seluruh cerita merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Lubis(1981: 18) menyampaikan cara memulai dan menyusun cerita yg disampaikan olehTasrif yang dibagi sebagai 5 tahapan, yakni penggambaran situasi awal (exposition),insiden mulai berkecimpung menuju krisis diwarnai dengan permasalahan-permasalahan (complication),keadaan mulai memuncak (rising action), keadaan mencapai puncakpenggawatan (klimaks), lalu pengarang memberikan pemecahan ataujalan keluar permasalahan sebagai akibatnya cerita berakhir (denouement). Caramemulai dan menyusun cerita seperti di atas dinamakan plot atau dramaticconflict.
3.1.2 Penokohan dan Perwatakan
Esten (pada Kelan, 2005: 14) menyatakan bahwa penokohan adalah permasalahanbagaimana cara menampilkan tokoh: bagaimana membangun serta berbagi wataktokoh-tokoh tadi dalam sebuah karya fiksi? Jadi antara pengertian tokoh danpenokohan memiliki makna yg tidak sama. Tokoh berbentuk suatu individu,sedangkan penokohan adalah proses
menampilkan individu tersebut pada cerita.
Dalam proses penciptaan pemeranan, sang aktor atau aktris harus memunyai dayacipta yg tinggi buat mencoba semaksimal mungkin menjadi tokoh yangdiperankan. Ia harus bisa menjiwai kiprah yg dipegangnya, sehingga ia(misalnya) benar-sahih adalah oleh tokoh
dengan apa adanya pada pementasan lakon tersebut. Pada penampilan imajinasinya,tokoh juga dibantu sang laris, pakaian yang dikenakan, serta rias. Semua unsurtidak mampu dipisah-pisahkan, bahkan harus saling mendukung, sebagai akibatnya mampumewujudkan karakter berdasarkan tokoh misalnya yang dikehendaki pada lakon yangbersangkutan.
Untuk mendeskripsikan karakter seseorang tokoh, pengarang bisa menggunakan tekniksebagai berikut. (1) Teknik analitik: karakter tokoh diceritakan secaralangsung oleh pengarang; (dua) Teknik dramatik, yaitu teknik karakter tokohdikemukakan melalui: (a) penggambaran fisik dan konduite tokoh; (b)penggambaran lingkungan kehidupan tokoh; (c) penggambatran ketatabahasaantokoh; (d) pengungkapan jalan pikiran tokoh; serta (e) penggambaran sang tokohlain. Pendapat tersebut dikuatkan sang Waluyo (2009: 30) yang menuliskan bahwapenggambaran watak tokoh mempertimbangkan tiga dimensi watak, yaitu dimensipsikis (kejiwaan), dimensi fisik (jasmpniah), dimensi sosiologis (latarbelakang kekayaan,
pangkat, serta jabatan)
Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang penting serta pembangun dari pada yg tidakdapat dikesampingkan kedudukannya. Nurgiyantoro (2000: 164) beropini bahwapembicaraan tentang tokoh dan perwatakannya menggunakan aneka macam citra dalam jatidirinya. Dalam berbagai hal, penokohan sanggup lebih menarik perhatian orangdaripada berurusan menggunakan plot.
3.1.tiga Amanat
Amanat adalah unsur cerita yg berafiliasi erat dengan tema. Amanat akanberarti jika ada pada tema, sedangkan tema akan sempurna bila didalamnya terdapat amanat sebagai pemecah jalan keluar bagi tema tersebut. Sudjiman(pada Alwi, 1998: 08) manyatakan bahwa
amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan sang pengarang. Amanat masih ada padasebuah karya sastra secara implisit atau eksplisit. Amanat dinyatakan secaraimplisit bila jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan pada tingkah lakumenjelang cerita berakhir. Sementara itu, amanat dilukiskan secara eksplisitapabila pengarang dalam tengah atau akhir cerita
menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, embargo, dan sebagainya.
Pengertian amanat yg telah dikemukakan di atas bisa disimpulkan bahwa amanatmerupakan pesan yg disampaikan pengarang, baik secara implisit atau eksplisitkepada pembaca. Di dalam drama, ada amanat yang langsung tersurat, tetapi padaumumnya sengaja disembunyikan secara implisit pada naskah drama yangbersangkutan. Hanya penonton yang profesional yg sanggup menemukan amanatimplisit tersebut.
Cerita drama yang telah dipanggungkan disebut dengan teater. Oleh karena itu,pembicaraan drama kerap dikaitkan dengan teater. Tak ayal, terkadang orangmenyebut drama sebagai teater dan sebaliknya, teater dikatakan dengan drama.kedua hal ini tetap tidak selaras. Perbedaan tadi
dapat dilihat dari tabel berikut.
3.dua Jenis Drama atau Teater
3.2.1 Tragedi
Boulton (1958:147) menjelaskan, drama tragedi adalah sebuah permainan denganakhir yg menyedihkan, umumnya setidaknya masih ada satu kematian, tindakandan pikiran dibentuk secara serius dan dengan menghormati hak pribadi manusia.sementara itu, Massofa (2009)
menuliskan bahwa drama tragedi adalah perbuatan yang menampilkan oleh tokohdalam kesedihan, kemuraman, keputusasaan, kehancuran, dan kematian.
Senada menggunakan pendapat pada atas, Wiyanto (2002:08) mengungkapkan bahwa dramatragedi merupakan drama yg penuh kesedihan. Pelaku primer berdasarkan awal sampai akhirpertunjukan selalu sia-sia (gagal) pada memperjuangkan nasibnya yg jelek.beberapa pendapat di atas bisa
menjelaskan pengertian bahwa drama tragedi merupakan drama yg bersifat ringanyang menggambarkan kedukaan atau kesedihan yg dialami oleh tokoh.
3.2.2 Melodrama
Boulton (1958: 148) memaparkan bahwa melodrama adalah interaksi yang rendah darisebuah peristiwa. Ini mungkin mengenai kesedihan atau akhir yang menyenangkan,meskipun berakhir menyedihkan misalnya tumpukan mayat atau teriakan orang gilaakan menjadi pelengkap sensasi
pertunjukan yg mungkin lebih mengharukan. Hal ini dikenal sebagai tragedi yangsebenarnya dengan penggambaran karakter seorang yg kasar dan mungkin baikatau dursila secara realistis.
Sementara itu, Massofa (2009) menyebutkan bahwa melodrama adalah perbuatantragedi yang hiperbola. Melodrama pula dapat masuk ke pada cerita yg mengharukanketika ditampilkan buat menggambarkan simpati. Ditambahkan oleh Wiyanto(2002:09) bahwa melodrama adalah
drama yang dialognya diucapkan menggunakan iringan melodi atau musik. Beberapapendapat para ahli di atas dapat menyimpulkan bahwa melodrama adalah dramamusikal yang sarat menggunakan kesedihan yang terkadang sangat berlebihan danmenguras empati penonton.
3.dua.tiga The Heroic Play (Drama Heroik)
Boulton (1958: 148) menjabarkan bahwa drama heroik merupakan jenis tragediberlebihan pada model Inggris pada zaman Dryden. Drama ini berkaitan dengantema cinta serta keberanian yg tinggi. Ada bagian adegan yg mengejutkan dariplot cerita yg aneh dan upaya itu dilakukan buat membuat sesuatu yanglebih akbar menurut tragedi tradisional. Keinginan untuk membangun sensasi yangkuat sehingga sebagai risiko menurut sebuah reaksi penolakan, tetapi bentuk itusekarang sudah punah.
Farce menurut Massofa (2009) disebutkan sebagai kata yakni komediyang dilebih-lebihkan. Drama farce/heroik ini sanggup dikatakan drama yang berlebihandalam mengekspresikan perilaku tokoh juga keberanian mengeksplor tema,sehingga menimbulkan efek yg terkadang di luar dugaan penonton, karenadikemas secara unik serta luar biasa.
3.2.4 Drama Masalah/Problem Play
Boulton (1958: 149) mengungkapkan bahwa kegunaan kata ini buat diterapkanpada jenis permainan yg menyenangkan berdasarkan masalah sosial atau moral tertentusehingga membuat orang berpikir cerdas. Secara alami hal ini umumnya berkaitandengan persoalan hidup insan yang menyakitkan. Jenis permainan ini bermaksudmengajukan pertanyaan yang baik serta menyediakan jawaban atau meninggalkanperadaban buat menemukan sesuatu.
3.2.lima Komedi (Comedy)
Boulton (1958: 150) menyatakan bahwa fungsi krusial berdasarkan komedi merupakan untukmenghibur. Hiburan bisa dimulai dari senyum hening kemudian lalu tertawa terbahak-bahak.komedi bisa menjadi sangat hebat atau sangat sederhana, tetapi jua dapatmenenangkan hati insan, seperti Yellow Sands and The Farmer’s Wife karyaEden Philpott; atau kecerdasan yg bijaksana misalnya The Provok’d Wife atauThe Way of The World. Penggunaan lawak bisa diadaptasi denganjenis-jenis drama yang mengikutinya. Sementara itu, Massofa (2009),mendeskripsikan drama komedi merupakan lakon ringan yg menghibur, menyindir,penuh seloroh, dan berakhir menggunakan kebahagiaan.
Koestler berpendapat bahwa humor adalah motivator militan. Sebenarnya humoradalah bentuk kekhawatiran, pertahanan diri atau menyerang mendadak (datang-tiba)dan tertawa lebar. Evolusi biologis insan, ucapnya, sudah jatuh di belakangmental yang berbahaya. Emosi militan-defensif turun menurut neurobiologis lapisandalam dan memiliki ketekunan yang lebih akbar serta menurut dalam diri dianggap evolusionerkemudian berkembang penalaran yang lebih fleksibel. Oleh karenanya peristiwamental secara datang-tiba menggunakan dua matriks biasa nir kompatibel, akan
tetapi emosi sanggup tidak mengikuti dengan cepat seperti itu serta begituketegangan psikologis menemukan solusi dalam tawa, yaitu di sepanjang channelpaling perlawanan.
POSTINGAN TERKAIT
TIPS SUKSES DI PRAKONDISI PLPG 2017 BACA DI SINI
MODUL PEDAGOGIK PERSIAPAN  PRAKONDISI PLPG 2017 UNDUH DI SINI
MODUL LENGKAP PERSIAPAN PRAKONDISI BAHASA INDONESIA UNDUH DI SINI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel